Penulis : Mardiana Makmun 23 Mei 2026 | 08:32 WIB
Seorang petugas kesehatan menggunakan termometer untuk memeriksa suhu tubuh orang-orang di depan Rumah Sakit Muslim Kibuli di Kampala, Uganda, Afrika pada Sabtu (16/5/2026). (Foto: AP/ Hajarah Nalwadda)
JAKARTA, investor.id - Otoritas kesehatan Amerika Serikat melakukan berbagai hal untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga Amerika terhadap kemungkinan tertular Ebola. Upaya perlindungan ini bisa menjadi pertimbangan Indonesia untuk mencegah terjadinya penularan penyakit yang mewabah di Afrika.
Upaya perlindungan itu dilakukan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Department of Homeland Security (DHS), dan unit terkait. Seperti diketahui, WHO secara resmi mengumumkan kini ada 51 kasus terkonfirmasi Ebola akibat virus Bundibugyo di dua negara Afrika, yaitu Uganda dan Kongo. Selain itu, sudah ada pula 600 kasus suspek dan 139 kematian yang juga berstatus suspek. WHO juga menyatakan bahwa jumlah kasus nampaknya akan terus bertambah.
Untuk mengantisipasi ini, pada 18 Mei 2026 otoritas kesehatan Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) bersama dengan Department of Homeland Security (DHS) dan unit terkait melakukan kegiatan proaktif untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga Amerika terhadap kemungkinan Ebola.
Disebutkan bahwa CDC mengimplementasikan kegiatan kesehatan masyarakat untuk mengurangi risiko penyakit Ebola akibat virus Bundibugyo, dengan mencegah masuknya penyakit ke Amerika Serikat, setidaknya dengan empat kebijakan penting.
Pertama, memperkuat skrining dan monitoring terhadap mereka yang datang dari daerah terjangkit Ebola sekarang ini.
Ke dua, membatasi (entry restriction) masuknya mereka yang bukan pemegang paspor Amerika, bila mereka ada di Uganda, Republik Demokratik Kongo, dan Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir. Ini merupakan tindakan yang cukup kuat yang akhirnya Amerika berlakukan.
Ke tiga, akan berkoordinasi dengan maskapai penerbangan, mitra internasional dan petugas pintu masuk negara untuk mengidentifikasi dan menangani pengunjung yang mungkin terpapar oleh virus Ebola.
Ke empat, memperkuat aktifitas respon proteksi di pelabuhan/bandara pintu masuk negara, juga meningkatan penelusuran kontak, kapasitas testing laboratorium dan kesiapa rumah sakit di Amerika Serikat.
Untuk tahap pertama ini kebijakan di atas akan berlaku selama 30 hari, sejak 18 Mei 2026. Disebutkan ada tiga alasan mendasar kenapa kebijakan perlindungan ketat ini di lakukan Amerika Serikat. Pertama dengan mengikuti perkembangan epidemiologi yang ada, ke dua hasil penilaian risiko (risk assessments) mereka, dan ke tiga karena memang seriusnya penyakit Ebola ini.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan tertulis menilai, cara Amerika ini bisa ditiru oleh Pemerintah Indonesia.
ÔÇ£Berbagai keputusan yang dilaksanakan Amerika Serikat ini tentu dapat saja menjadi salah satu pertimbangan untuk dilakukan di negara kita, untuk melindungi warga kita,ÔÇØ ujar Prof Tjandra yang juga mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes.
Editor: Mardiana Makmun
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Perkembangan Terbaru Penyakit Menular Ebola, 130 Kematian di Afrika
Waspada, Kasus Hantavirus Positif di Jakarta
Kemenkes Percepat Penanganan Tuberkulosis
Penularan Virus Hanta dari Tikus ke Manusia Sebabkan Sindrom Paru
Lifestyle 5 menit yang lalu Indonesia Bisa Tiru Amerika Serikat Melindungi Warganya dari Ebola Otoritas kesehatan Amerika Serikat melakukan berbagai hal untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga Amerika terhadap kemungkinan tertular Ebola. Upaya perlindungan ini bisa menjadi pertimbangan Indonesia untuk mencegah terjadinya penularan penyakit yang mewabah di Afrika.
Market 10 menit yang lalu Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 23 Mei 2026: Babak Belur Lagi Harga emas Antam (ANTM) terpantau babak belur lagi pada Sabtu (23/5/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 38 menit yang lalu Pakar Wanti-wanti Tekanan Harga Emas Belum Berakhir Pakar peringatkan tekanan harga emas belum berakhir akibat ancaman The Fed, yield tinggi, dan inflasi AS
Macroeconomy 1 jam yang lalu Misbakhun Yakin DSI Perkuat Tata Kelola dan Jaga Iklim Investasi Misbakhun menilai DSI dapat memperkuat tata kelola ekspor, menjaga devisa, dan meningkatkan kepercayaan investor
Macroeconomy 1 jam yang lalu Purbaya Optimis RI Tak Hadapi Risiko Krisis Ekonomi Menkeu Purbaya memastikan pemerintah tidak melihat adanya tanda-tanda krisis pada ekonomi Indonesia.
Market 2 jam yang lalu Harga Batu Bara Rontok, Kebijakan Ekspor Baru RI Bikin Pasar Cemas Harga batu bara mayoritas rontok akibat kekhawatiran pasar terhadap aturan ekspor baru RI melalui DSI