Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang akan mulai berlaku pada 1 Mei 2026. Langkah strategis ini diambil Abu Dhabi guna memperluas kapasitas produksi minyak nasional tanpa terikat batasan kuota organisasi.
Keputusan besar dari salah satu produsen minyak utama dunia tersebut, seperti dilansir dari Suara, muncul di tengah eskalasi konflik di kawasan Teluk yang melibatkan Iran. Pengunduran diri ini diprediksi akan menggerus dominasi kartel minyak global dalam mengatur pasokan mentah ke pasar internasional.
Kebijakan keluar dari OPEC tersebut juga menandakan keretakan hubungan yang semakin tajam antara UEA dengan Arab Saudi. Selama ini, Riyadh memegang peran sebagai pemimpin de facto dalam organisasi tersebut, sementara Abu Dhabi kini memilih jalur kebijakan energi yang lebih mandiri.
Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, memberikan penegasan bahwa langkah ini merupakan hasil tinjauan komprehensif terhadap strategi energi jangka panjang negara tersebut.
"Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah mempertimbangkan secara saksama kebijakan produksi saat ini dan masa depan," ujar Mazrouei.
Ia juga menekankan bahwa penetapan tanggal 1 Mei 2026 merupakan keputusan kedaulatan yang tidak melibatkan diskusi dengan negara anggota lainnya sebelumnya.
Meskipun pengumuman ini memicu koreksi pada pasar minyak internasional, dampak langsungnya diperkirakan tertahan oleh situasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak mentah dunia tersebut saat ini terhambat oleh ancaman keamanan dari Iran.
Kondisi keamanan di Selat Hormuz menjadi faktor penentu karena gangguan distribusi menghalangi kemampuan produsen Teluk untuk mengekspor komoditas mereka secara maksimal. Hal ini menyebabkan fluktuasi harga akibat pasokan yang tersendat, terlepas dari pengunduran diri UEA.
Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan tren penurunan pangsa pasar OPEC+. Pada Maret 2026, penguasaan pasar kelompok ini turun menjadi 44 persen dari sebelumnya 48 persen pada Februari. Angka tersebut diperkirakan akan merosot lebih jauh setelah UEA resmi melepaskan status keanggotaannya.
Rivalitas Regional dan Pengaruh Global
Di sisi lain, kebijakan UEA ini dipandang sebagai sebuah pencapaian diplomatik bagi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump secara konsisten melayangkan kritik tajam terhadap OPEC yang dianggap melakukan praktik tekanan harga minyak terhadap ekonomi global.
Pihak Gedung Putih bahkan telah lama mengaitkan keberadaan dukungan militer di wilayah Teluk dengan komitmen stabilitas harga energi. Pengunduran diri UEA memberikan peluang bagi negara tersebut untuk mengisi celah pasar saat ketegangan geopolitik mulai mereda nantinya.
Persaingan antara Abu Dhabi dan Riyadh kini tidak lagi hanya sebatas pengaruh politik, melainkan merambah ke kompetisi ekonomi yang sangat ketat. Kedua negara tersebut saling berebut modal asing, talenta profesional, dan kendali atas pasar energi global melalui kebijakan luar negeri yang asertif.
Langkah UEA untuk keluar dari keterikatan kuota OPEC menunjukkan pergeseran fokus mereka ke arah penguatan pengaruh regional melalui kemitraan strategis lainnya. Sementara itu, sejumlah pemimpin negara Teluk dikabarkan berkumpul di Arab Saudi untuk merespons ancaman serangan rudal dan drone yang terus melanda kawasan sejak akhir Februari lalu.