Uni Emirat Arab (UEA) resmi memutuskan untuk mengundurkan diri dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terhitung mulai 1 Mei 2026. Keputusan ini diambil guna memberikan kebebasan bagi negara tersebut dalam meningkatkan kapasitas produksi minyak nasional yang selama ini dibatasi oleh sistem kuota organisasi, sebagaimana dilansir dari Suara.
Langkah strategis UEA ini diprediksi akan melemahkan pengaruh OPEC dalam mengendalikan pasar energi dunia, terutama saat volatilitas harga meningkat akibat ketegangan geopolitik internasional. Saat ini, pangsa pasar OPEC terhadap produksi minyak mentah global telah menyusut menjadi 36,7 persen pada tahun 2025.
Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, menjelaskan bahwa langkah keluar dari aliansi tersebut merupakan bagian dari kebijakan berdaulat negara untuk merespons kebutuhan energi masa depan.
"Ini adalah keputusan kebijakan, yang telah dilakukan setelah mempertimbangkan dengan cermat kebijakan saat ini dan masa depan yang terkait dengan tingkat produksi." ujar Suhail Mohamed al-Mazrouei, Menteri Energi UEA.
Penegasan tersebut berkaitan dengan ambisi UEA untuk memaksimalkan sumber daya energi mereka tanpa hambatan birokrasi kelompok tertentu di tengah permintaan global yang tetap tinggi.
"Dunia membutuhkan lebih banyak energi. Dunia membutuhkan lebih banyak sumber daya, dan UEA ingin tidak dibatasi oleh kelompok mana pun." kata Suhail Mohamed al-Mazrouei, Menteri Energi UEA.
Analis geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, menilai hilangnya UEA yang memiliki kapasitas produksi hingga 4,8 juta barel per hari akan mengurangi kekuatan kendali kartel minyak tersebut secara signifikan.
"Kehilangan anggota dengan kapasitas produksi 4,8 juta barel per hari, dan ambisi untuk memproduksi lebih banyak, menghilangkan alat yang sangat berharga dari tangan kelompok [OPEC]" tegas Jorge Leon, Analis Geopolitik Rystad Energy.
Leon menambahkan bahwa perubahan perhitungan ekonomi bagi negara produsen kini beralih lebih cepat, sehingga sistem kuota sering dianggap sebagai penghambat peluang keuntungan maksimal.
"Dengan permintaan yang mendekati puncaknya, perhitungan bagi produsen dengan harga minyak rendah berubah dengan cepat, dan menunggu giliran dalam sistem kuota mulai terlihat seperti kehilangan peluang keuntungan." ungkap Jorge Leon, Analis Geopolitik Rystad Energy.
Di sisi lain, meskipun ada potensi peningkatan pasokan, harga minyak dunia saat ini tetap tinggi dengan Brent berada di kisaran 117 dolar AS per barel akibat blokade Selat Hormuz yang melumpuhkan pengiriman jutaan barel minyak harian.
Ekonom dari Capital Economics memprediksi bahwa melemahnya persatuan di dalam OPEC akan berdampak pada pergeseran keseimbangan risiko pasar minyak di masa mendatang.
"OPEC yang lebih terpecah belah dan lebih lemah dapat membatasi pengaruh kelompok tersebut terhadap harga minyak" tulis Ekonom Capital Economics.
Analisis tersebut memperkirakan bahwa berkurangnya pengaruh kartel secara perlahan dapat membuka peluang bagi penurunan harga minyak mentah dalam jangka panjang.
"Hal itu bisa menggeser keseimbangan risiko ke arah harga minyak yang lebih rendah dari waktu ke waktu.." tambah Ekonom Capital Economics.
Kepala ekonom ADCB, Monica Malik, melihat keputusan ini sebagai manuver untuk memperkuat posisi UEA dalam kompetisi pasar global saat kondisi geopolitik membaik.
"THal ini membuka pintu bagi UEA untuk mendapatkan pangsa pasar global ketika situasi geopolitik kembali normal." ujar Monica Malik, Kepala Ekonom ADCB.
Keluarnya UEA juga mencerminkan dinamika persaingan yang semakin tajam antara Abu Dhabi dan Riyadh dalam memperebutkan pengaruh ekonomi serta modal asing di kawasan Teluk.
Jorge Leon mencatat bahwa posisi Arab Saudi sebagai penstabil pasar utama kini menghadapi tantangan baru seiring dengan kebijakan asertif UEA di luar organisasi.
"Di luar kelompok tersebut, UEA akan memiliki insentif dan kemampuan untuk meningkatkan produksi, sehingga menimbulkan pertanyaan yang lebih luas tentang keberlanjutan peran Arab Saudi sebagai penstabil utama pasar." tutur Jorge Leon, Analis Geopolitik Rystad Energy.