Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keputusan resmi untuk mengundurkan diri dari keanggotaan Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) terhitung mulai Jumat, 1 Mei 2026. Dilansir dari Kompas, kebijakan ini diambil agar negara tersebut memiliki kemandirian penuh dalam mengatur volume produksi minyak mentahnya.
Langkah strategis ini disampaikan melalui pernyataan resmi pada Selasa, 28 April 2026, yang menegaskan bahwa keputusan tersebut sejalan dengan visi jangka panjang negara. Pemerintah UEA menargetkan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap guna merespons dinamika permintaan pasar energi global secara lebih fleksibel.
"dengan cara gradual dan terukur, sesuai dengan permintaan dan kondisi pasar." tulis pernyataan resmi pemerintah Uni Emirat Arab.
Keputusan UEA meninggalkan kartel minyak ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang memanas akibat blokade Selat Hormuz yang berdampak pada stabilitas harga energi dunia. Sebagai informasi, OPEC merupakan organisasi antarpemerintah yang berdiri sejak 1960 dan kini menyisakan 11 anggota setelah pengunduran diri UEA.
Jorge Leon, pakar dari perusahaan riset energi Norwegia, Rystad Energy, menilai bahwa keluarnya UEA merupakan kehilangan besar bagi organisasi tersebut. UEA dikenal memiliki kemampuan teknis untuk menggenjot kapasitas produksi dalam waktu singkat dibandingkan anggota lainnya.
"OPEC yang melemah secara struktur, dengan berkurangnya kapasitas terkonsentrasi dalam grup tersebut, akan semakin kesulitan menyesuaikan pasokan dan menjaga harga tetap stabil," kata Jorge Leon, Pakar Rystad Energy.
Leon menambahkan bahwa lanskap pasokan minyak dunia berpotensi menjadi lebih terfragmentasi pasca keputusan ini. Kondisi tersebut diprediksi akan memicu ketidakstabilan pasar karena berkurangnya kekuatan kolektif OPEC dalam menyeimbangkan antara ketersediaan stok dan permintaan global.
"Efeknya mengarah ke lanskap pasokan yang lebih terfragmentasi dan pasar minyak yang kemungkinan semakin tidak stabil karena kapasitas OPEC untuk mengatasi ketidakseimbangan (pasokan) berkurang." kata Jorge Leon, Pakar Rystad Energy.
Ketegangan internal antara UEA dan Arab Saudi terkait pembatasan kuota produksi menjadi salah satu faktor pendorong keluarnya negara tersebut. UEA berupaya memaksimalkan produksi minyak sebelum tren konsumsi dunia diprediksi menurun akibat transisi global menuju penggunaan energi baru terbarukan.
Michael Brown, analis dari Pepperstone, memberikan pandangan mengenai dampak harga pasar jika UEA benar-benar merealisasikan peningkatan produksi secara masif. Namun, ia menekankan bahwa variabel utama harga saat ini tetap berada pada situasi di jalur perdagangan laut internasional.
"Saat ini, (Selat Hormuz) ditutup, mengencangkan kondisi pasokan hari demi hari dan mungkin akan meningkatkan tolok ukur (harga minyak) tiap harinya," kata Michael Brown, Analis Pepperstone.
Hingga saat ini, penutupan Selat Hormuz masih menjadi faktor dominan yang menekan pasokan harian di pasar internasional. Situasi ini diperkirakan akan terus mendongkrak harga patokan minyak mentah selama jalur tersebut belum beroperasi secara normal.