UEA Keluar dari OPEC dan OPEC+ Per 1 Mei 2026

UEA Keluar dari OPEC dan OPEC+ Per 1 Mei 2026
Foto: Ilustrasi UEA Keluar dari OPEC dan OPEC+ Per 1 Mei 2026.

Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengumumkan pengunduran diri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan aliansi OPEC+ yang mulai berlaku pada 1 Mei 2026, Rabu (29/4/2026). Langkah drastis produsen minyak terbesar ketiga di kelompok tersebut dipicu oleh ketegangan panjang mengenai batasan kuota produksi dan strategi ekspansi energi mandiri.

Pengunduran diri ini dilaporkan oleh Money sebagai akumulasi dari friksi geopolitik di Timur Tengah serta ambisi Abu Dhabi untuk meningkatkan kapasitas produksi secara masif. Peninjauan menyeluruh terhadap kebijakan energi nasional menjadi landasan utama bagi pemerintah UEA dalam mengambil keputusan tersebut.

"Keputusan ini diambil dengan kepentingan nasional dan komitmen memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak," kata Al Mazrouei, Menteri Energi UEA.

Suhail Mohamed Al Mazrouei menegaskan bahwa kebijakan ini selaras dengan rencana strategis negara untuk lebih fleksibel dalam merespons dinamika permintaan global. UEA diketahui berupaya meningkatkan kapasitas produksi dari 3 juta menjadi 5 juta barrel per hari (bph) pada tahun 2027 melalui investasi besar di perusahaan negara Adnoc.

Pakar energi menilai keterikatan pada sistem kuota kolektif yang dipimpin Arab Saudi menjadi hambatan bagi UEA untuk memonetisasi investasi infrastruktur mereka. Fokus UEA kini beralih pada statusnya sebagai produsen energi berbiaya rendah dengan emisi karbon yang lebih kompetitif.

"UEA telah merencanakan untuk meningkatkan produksi minyak hingga 30 persen, dan akan sulit untuk melakukannya dalam batasan OPEC dan OPEC+," ujar Croft, Helima Croft dari RBC Capital Markets.

Analisis dari Helima Croft juga menyoroti bahwa situasi pasar saat ini, yang terganggu oleh ketegangan di Selat Hormuz, memberikan momentum bagi UEA untuk keluar tanpa memberikan guncangan harga yang terlalu ekstrem.

"Sekarang mungkin waktu yang paling tidak merugikan untuk mengumumkannya," kata Croft.

Selain faktor internal, pengaruh eksternal seperti gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik Iran telah mendorong harga minyak mentah Brent melampaui 111 dollar AS per barrel. Kondisi pasokan global yang ketat ini dimanfaatkan Abu Dhabi untuk memperkuat otonomi produksinya di luar konsensus kelompok.

"Proses pembuatan (keputusan) sudah berlangsung lama," ujar Nakhle, Carole Nakhle selaku Chief Executive Officer Crystol Energy.

Carole Nakhle menambahkan bahwa UEA selama ini merasa terbatasi oleh dominasi Arab Saudi dalam menentukan arah kebijakan organisasi. Ketidakseimbangan kepatuhan antaranggota dalam menjalankan pemangkasan produksi menjadi alasan tambahan di balik retaknya hubungan kedua sekutu Teluk tersebut.

Kepergian UEA dipandang sebagai tantangan besar bagi stabilitas OPEC dalam jangka panjang karena berkurangnya kapasitas cadangan kolektif untuk menyeimbangkan pasar. Pengamat industri memperingatkan risiko efek domino bagi anggota lain setelah sebelumnya Angola melakukan hal serupa pada tahun 2023.

"Keputusan ini diambil dengan kepentingan nasional dan komitmen memenuhi kebutuhan pasar yang mendesak," kata Al Mazrouei, Menteri Energi UEA.

Meskipun pasar sempat mengalami koreksi tipis segera setelah pengumuman, harga minyak dunia diprediksi tetap bertahan di level tinggi seiring fokus investor yang beralih pada risiko gangguan pasokan di Timur Tengah.

Artikel terkait

Rekomendasi