Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan keputusan untuk mengundurkan diri dari keanggotaan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta aliansi OPEC+ yang mulai berlaku pada 1 Mei 2026 mendatang.
Langkah strategis ini diambil Abu Dhabi untuk mendapatkan fleksibilitas penuh dalam menentukan volume produksi minyak mentah guna mendukung rencana energi jangka panjang serta kepentingan ekonomi nasional mereka, sebagaimana dilansir dari Money.
Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, menegaskan bahwa otoritas terkait telah melakukan evaluasi mendalam sebelum memutuskan untuk menempuh jalur kebijakan independen tersebut.
"Ini adalah keputusan kebijakan, yang telah dilakukan setelah mempertimbangkan dengan cermat kebijakan saat ini dan masa depan yang terkait dengan tingkat produksi," ujar Al-Mazrouei kepada Reuters.
Penegasan ini muncul di tengah ambisi UEA yang telah menanamkan investasi besar-besaran untuk mendongkrak kapasitas produksi migas serta pengembangan sektor energi bersih secara masif.
Al-Mazrouei juga mengonfirmasi bahwa langkah besar ini tidak dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak Arab Saudi yang memegang peran sebagai pemimpin de facto dalam aliansi produsen minyak tersebut.
Keputusan UEA ini dipicu oleh ketegangan laten terkait distribusi kuota produksi yang dinilai tidak lagi menguntungkan bagi posisi tawar Abu Dhabi di pasar global.
Keluarnya produsen minyak terbesar ketiga di OPEC ini langsung memberikan guncangan pada pasar komoditas energi dunia pada Selasa (28/4/2026).
Tercatat harga minyak mentah Brent melonjak hingga menyentuh angka 111,60 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melewati level 100 dollar AS per barrel.
Analis memprediksi bahwa meskipun langkah UEA dapat menambah pasokan global di masa depan, melemahnya koordinasi kolektif berisiko meningkatkan volatilitas biaya energi bagi konsumen di seluruh dunia.