Pelatih timnas Inggris Thomas Tuchel mencoret Phil Foden, Cole Palmer, dan Harry Maguire dari daftar skuad untuk Piala Dunia 2026 demi membangun budaya mentalitas tim yang kuat. Langkah tegas ini diambil untuk menjaga keharmonisan ruang ganti selama turnamen berlangsung, sebagaimana dilansir dari Suara.
Keputusan tersebut menjadi sorotan karena ketiga nama itu merupakan pemain favorit pada era kepelatihan Gareth Southgate. Pencoretan ini didasarkan pada komitmen, sikap tidak egois, serta kesiapan para pemain untuk berkorban demi kesuksesan tim nasional.
Tuchel menegaskan bahwa dirinya sengaja memilih 26 pemain yang benar-benar siap memprioritaskan kepentingan tim di atas talenta individu. Menurut sang pelatih, faktor kekompakan dan mentalitas merupakan elemen krusial dalam menghadapi turnamen sebesar Piala Dunia.
ÔÇ£Tugas saya bukan memilih 26 pemain paling berbakat,ÔÇØ ujar Tuchel dilansir dari BBC.
Mantan pelatih Chelsea dan Bayern Munchen tersebut menghendaki seluruh anggota skuad mengutamakan semangat kebersamaan. Karakteristik itu dinilai lebih penting dibandingkan sekadar mengandalkan kemampuan individu semata.
ÔÇ£Kami punya 26 pemain yang 100 persen berkomitmen, siap menerima peran mereka di dalam dan luar lapangan, serta mengutamakan semangat tim dan sikap tidak egois,ÔÇØ lanjut Tuchel.
Kritik publik kemudian muncul setelah Harry Maguire langsung mengungkapkan rasa kekecewaannya secara terbuka. Sejumlah pengamat menilai reaksi tersebut justru membuktikan alasan Tuchel sangat menekankan pentingnya pengendalian ego di ruang ganti.
ÔÇ£Itu sebenarnya tidak perlu diumumkan ke publik,ÔÇØ kata Tuchel menanggapi unggahan Maguire.
Kendati demikian, juru taktik asal Jerman itu menyatakan dapat memaklumi respons emosional yang ditunjukkan oleh sang bek tengah. Penilaian terhadap karakter skuad juga didasarkan pada cara para pemain menghadapi pencoretan tersebut.
ÔÇ£Saya memahami rasa kecewanya dan tetap sangat menghormatinya sebagai pemain,ÔÇØ tambah Tuchel.
Manajemen ego dan harga diri menjadi fokus utama Tuchel agar tim mampu menghadapi tekanan sepanjang turnamen. Jajaran pelatih tidak ingin mengambil risiko yang berpotensi merusak kekompakan internal saat kompetisi sudah berjalan.
ÔÇ£Sepanjang turnamen pasti ada rasa kecewa. Pertanyaannya adalah bagaimana pemain mengatasi ego dan harga dirinya, lalu tetap mendukung rekan setim,ÔÇØ ujar Tuchel.
Antisipasi masalah internal dilakukan sejak awal agar timnas Inggris memiliki fondasi yang solid. Tuchel menginginkan komitmen penuh dari seluruh elemen tim tanpa adanya perjudian taktik maupun mentalitas.
ÔÇ£Kami tidak ingin berjudi dan baru mengetahui masalah itu ketika turnamen sudah berjalan,ÔÇØ sambung Tuchel.
Saat ini, Tuchel memastikan bahwa skuad pilihannya telah memiliki kelompok pemimpin yang kuat di dalam ruang ganti. Kehadiran para pemain senior diklaim telah membantu membangun standar serta budaya positif di timnas Inggris meskipun ia enggan merinci nama-nama pemain tersebut.