Peralihan dari bahan bakar minyak ke kendaraan listrik di Indonesia mulai diposisikan sebagai langkah strategis guna menekan ketergantungan pada energi impor. Upaya ini menjadi krusial mengingat sektor transportasi saat ini menjadi titik lemah ketahanan energi nasional akibat besarnya konsumsi BBM, sebagaimana dilaporkan oleh Otomotif pada Senin (20/4/2026).
Head of Center of Industry, Trade and Investment di INDEF, Andry Satrio Nugroho, menyoroti bahwa konsep ketahanan energi sangat bergantung pada kemampuan negara untuk tidak mengandalkan pasokan dari luar negeri. Tingginya angka impor BBM menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi melalui perubahan sistem transportasi.
"Konsep ketahanan energi itu bagaimana kita tidak bergantung pada pasokan dari luar. Sementara saat ini, konsumsi BBM kita masih besar dan sebagian dipenuhi dari impor" ujar Andry Satrio Nugroho, Head of Center of Industry, Trade and Investment di INDEF.
Meskipun kendaraan listrik menawarkan kemandirian energi karena sumber dayanya diproduksi di dalam negeri, Andry mengakui bahwa proses transisi ini belum sepenuhnya ideal. Kritik sering muncul terkait penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara yang masih mendominasi pengisian daya kendaraan listrik saat ini.
"Kalau ideal, dari pembangkitnya harus renewable. Jadi bukan hanya kendaraannya yang berubah, tapi seluruh sistem energinya" kata Andry Satrio Nugroho, Head of Center of Industry, Trade and Investment di INDEF.
Pendekatan well-to-wheel menjadi acuan komprehensif untuk memastikan seluruh rantai energi, mulai dari hulu hingga ke kendaraan, benar-benar bersih. Transformasi ini tidak hanya menuntut perubahan pada sektor otomotif, tetapi juga memerlukan reformasi kebijakan dan pembangunan infrastruktur energi terbarukan di sektor ketenagalistrikan nasional.