Sektor perhotelan nasional mulai memperkuat ekosistem layanan dan infrastruktur digital guna menyambut momentum Ramadan serta Idul Fitri 1447 Hijriah pada kuartal pertama 2026. Langkah ini diambil oleh sejumlah pengelola hotel sebagai strategi menghadapi perubahan perilaku konsumen dan efisiensi pasar.
Dilansir dari Kompas pada Senin (16/2/2026), dua pemain besar yakni Le Eminence Hotel Convention & Resort di Puncak serta Hotel Bidakara Jakarta telah memulai transformasi operasional. Keduanya fokus pada peningkatan pengalaman tamu melalui pemanfaatan data dan renovasi fasilitas fisik secara menyeluruh.
General Manager Le Eminence Puncak, Euis Martiningsih, menjelaskan bahwa pihaknya mengusung tema khusus untuk menarik pasar keluarga religius melalui program liburan spiritual. Selain fasilitas fisik, manajemen menonjolkan kedalaman pengalaman batin bagi para tamu yang menginap di kawasan Ciloto tersebut.
"Salah satu puncaknya adalah kajian 'Eksplorasi Diri Tanpa Topeng Digital'. Ini adalah refleksi atas fenomena media sosial, di mana kami mengajak tamu menanggalkan citra semu dan kembali menemukan kejujuran diri," jelas Euis Martiningsih, General Manager Le Eminence Puncak.
Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung, manajemen juga menerapkan sistem prakiraan tamu yang matang dan pembaruan informasi lalu lintas secara seketika. Strategi ini dibarengi dengan posisi hotel sebagai resor mewah keluarga tanpa alkohol guna membidik segmentasi pasar yang lebih spesifik.
Di sisi lain, Hotel Bidakara Jakarta melakukan pergeseran target pasar dari sektor pemerintahan ke segmen korporasi dan individu. GM Hotel Bidakara, Wisnu Reza, menyebutkan bahwa sebelumnya sekitar 50 persen pangsa pasar mereka sangat bergantung pada anggaran pemerintah.
"Sekarang kami geser ke korporasi, asosiasi, dan terutama staycation. Tamu staycation itu lebih kritis; mereka bayar sendiri, mereka buka online travel agencies (OTA) atau aplikasi traveling populer, cek komentar media sosial. Jika kualitas servis kami buruk, mereka tidak akan segan memberi ulasan negatif," ungkap Wisnu Reza, GM Hotel Bidakara.
Sebagai bagian dari pembaruan, Bidakara telah merampungkan renovasi pada sebagian besar dari total 176 kamar yang tersedia. Wisnu menekankan bahwa perubahan infrastruktur ini wajib diikuti dengan penyesuaian pola pikir sumber daya manusia dalam melayani tamu digital.
"Orang datang pukul 17.00 WIB sore, meja sudah penuh makanan, tapi mereka tidak langsung makan. Mereka foto-foto dulu untuk konten. Kami harus mengakomodasi kebutuhan visual ini," tambah Wisnu Reza, GM Hotel Bidakara.
Sektor investasi perhotelan juga diprediksi akan mengalami pertumbuhan pesat pada tahun ini. JLL memproyeksikan nilai transaksi investasi perhotelan di Indonesia akan melonjak hingga mencapai angka 150 juta USD atau setara Rp 2,34 triliun.
Proyeksi ini menunjukkan kenaikan drastis dibandingkan realisasi investasi tahun 2025 yang hanya sebesar 15,2 juta USD. Peningkatan ini dipicu oleh pulihnya kunjungan wisatawan mancanegara dan percepatan proyek strategis di Jakarta serta Bali.
"Kestabilan tingkat permintaan pada sektor pariwisata dan meningkatnya minat investor asing diproyeksikan akan mendorong peningkatan aktivitas transaksi pada tahun 2026. Fokus utama diperkirakan akan tertuju pada aset-aset premium (high-end) di Jakarta dan Bali," jelas Irina Chadsey, Vice President Investment Sales, Hotels & Hospitality Group JLL Asia Pacific.
Data JLL menunjukkan Jakarta mencatatkan jangkauan internasional sebesar 7,5 persen yang melampaui level sebelum pandemi. Sementara itu, kunjungan wisatawan ke Bali tercatat naik 10,3 persen sepanjang 2025 dengan dominasi turis asal China dan Korea Selatan.