Tidur di samping pasangan terkasih ternyata mampu meningkatkan kualitas istirahat di malam hari. Hubungan emosional yang positif dan rasa aman menjadi faktor psikologis utama yang membuat seseorang dapat tidur dengan lebih nyenyak.
Aktivitas intim di tempat tidur, mulai dari berciuman, berpelukan, hingga hubungan seksual, memicu pelepasan koktail hormonal di dalam tubuh. Hormon yang dilepaskan tersebut memberikan efek menenangkan secara fisik dan mental.
Dilansir dari Popbela, tidur bersama orang tercinta memicu produksi hormon oksitosin yang sering dikenal sebagai hormon cinta. Hormon ini berperan penting dalam memicu rasa tenang, nyaman, sekaligus memberikan efek relaksasi sebelum terlelap.
Pelepasan oksitosin dapat meningkatkan rasa kantuk, terutama jika pasangan sudah merasa nyaman satu sama lain secara fisik. Penasihat ilmiah untuk SleepFoundation.org, Wendy Troxel, PhD, menjelaskan mengenai fenomena ini.
"Tidur dengan pasangan adalah kesempatan untuk koneksi, keintiman dan kenyamanan, yang dapat memfasilitasi tidur yang sehat," kata Wendy Troxel, PhD.Berdasarkan riset yang dilakukan selama 11 tahun, perempuan yang berada dalam hubungan jangka panjang yang stabil memiliki kualitas tidur yang lebih baik. Efek ini terasa paling kuat ketika seseorang tidur di sebelah pasangan yang memiliki hubungan positif dengannya.
"Kami telah gevonden dalam penelitian bahwa perempuan dengan pernikahan bahagia tidur lebih baik daripada yang tidak berpasangan atau dalam pernikahan tidak bahagia," ujar Wendy Troxel, PhD.Cara Otak Merespons Rasa Aman
Otak manusia tetap bekerja secara aktif meskipun tubuh sedang dalam kondisi tertidur. Kehadiran fisik orang yang dicintai membantu otak mengingat kenyamanan serta menurunkan sinyal stres.
Dari sudut pandang evolusi, kondisi tidur merupakan saat di mana manusia berada dalam posisi paling rentan. Perasaan tidak aman atau terancam dapat mencegah seseorang untuk masuk ke fase tidur yang dalam.
"Salah satu cara utama kita dapat memperoleh keselamatan atau keamanan adalah melalui koneksi sosial, yang dapat menurunkan sistem respons stres, atau pelepasan hormon termasuk kortisol yang terjadi ketika otak merasakan ancaman," tutur Wendy Troxel, PhD.Kehadiran pasangan yang dipercaya mampu membantu mengatur sinyal stres tersebut. Akibatnya, tubuh akan merasa lebih aman sehingga proses transisi menuju tidur nyenyak menjadi lebih mudah.
Konsistensi dan Dinamika Hubungan
Rutinitas tidur bersama pasangan yang penuh kasih secara konsisten dari waktu ke waktu mempermudah tubuh untuk beristirahat. Psikolog tidur, Samina Ahmed Jauregui, PsyD, menyebutkan bahwa faktor kebiasaan ini secara sederhana membantu meningkatkan kenyamanan tidur.
Kendati demikian, interaksi di luar area kamar tidur juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Hubungan yang harmonis sehari-hari berdampak langsung pada tingkat stres individu.
Psikolog tidur, Rebecca Robbins, PhD., menjelaskan bahwa pengelolaan stres yang baik dalam hubungan sosial dapat membantu menurunkan kecemasan. Dengan tingkat stres yang rendah, seseorang akan lebih mudah untuk terlelap.
Pilihan Setiap Pasangan Berbeda
Meskipun tidur bersama pasangan memiliki banyak manfaat psikologis, hal ini bukan menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan istirahat yang berkualitas. Beberapa pasangan justru mendapatkan tidur yang lebih baik dengan berpisah ranjang atau kamar.
"Tidak ada pendekatan yang pasti untuk semua pasangan dalam mencapai tidur terbaik,ÔÇØ ucap Wendy Troxel, PhD.Data objektif dari alat pelacak tidur menunjukkan bahwa beberapa orang mengalami penurunan kualitas tidur saat berbagi tempat tidur secara fisik. Namun, secara psikologis, mayoritas orang tetap memilih untuk tidur bersama pasangannya.
"Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, manfaat psikologis dari tidur bersama mungkin lebih besar daripada hal obyektif kecil," kata Wendy Troxel, PhD.