PO Agra Mas Bertahan Tanpa Penyesuaian Tarif Bus

PO Agra Mas Bertahan Tanpa Penyesuaian Tarif Bus
Foto: Ilustrasi PO Agra Mas Bertahan Tanpa Penyesuaian Tarif Bus.

Pemilik sekaligus Direktur Utama PO Agra Mas, David Ariawan, mengonfirmasi bahwa perusahaan otobus miliknya masih mempertahankan tarif perjalanan di tengah tren kenaikan harga BBM non-subsidi pada Senin (4/5/2026). Langkah ini diambil lantaran pemerintah tetap menjaga stabilitas harga solar subsidi di Wonogiri.

Keputusan pemerintah untuk tidak mengubah harga solar dinilai sangat krusial bagi keberlangsungan operasional moda transportasi darat. Dilansir dari Otomotif, kebijakan ini memungkinkan para pengusaha angkutan umum untuk beroperasi tanpa harus membebani penumpang dengan tambahan biaya tiket.

"Saat ini solar kan belum naik, artinya masih dipertahankan pemerintah untuk harganya bertahan. Selama itu bisa dipertahankan harganya, saya pikir itu sudah cukup membantu. Karena pada saat biasanya, kemarin-kemarin, tahun-tahun yang lalu, pada saat menaikan BBM itu tentunya ada kenaikan tarif," ucap David di Wonogiri, Senin (4/5/2026).

David menjelaskan bahwa penyesuaian biaya perjalanan merupakan respons logis yang sulit dihindari apabila terjadi perubahan harga pada komponen bahan bakar utama. Namun, kondisi saat ini dinilai masih cukup kondusif bagi stabilitas neraca keuangan perusahaan jasa transportasi.

"Itu sudah tidak bisa dihindari. Dengan adanya sekarang ini belum naik, kita masih bisa kurang lebih bertahan," ujarnya.

Potensi kenaikan tarif di masa depan diprediksi akan melibatkan koordinasi tidak resmi antar pelaku usaha di industri yang sama. David menegaskan bahwa seluruh perusahaan otobus kemungkinan besar akan mengambil kebijakan serupa jika terjadi gejolak pada harga solar.

"Pasti akan ada penyesuaian tarif, dan itu tidak cuma hanya PO kita. Itu semua PO-Bus akan rumusnya sama," ucapnya.

Pergeseran harga tiket di pasar biasanya akan mengalami normalisasi seiring berjalannya waktu hingga mencapai titik keseimbangan harga yang kompetitif. Perbedaan nominal tarif antar perusahaan diperkirakan hanya akan berada pada rentang yang tipis.

"Dan besarannya pun kurang lebih beda-beda sedikit, nanti pada saat tertentu itu akan sama. Di PO tertentu itu akan naik turun, akhirnya nanti sama. Ya, selisih Rp 10.000 sampai Rp 20.000," ucapnya.

Kekhawatiran utama para pelaku usaha saat ini adalah penurunan volume penumpang akibat melemahnya kemampuan ekonomi konsumen jika terjadi lonjakan biaya hidup secara mendadak.

"Harapannya tidak berubah, karena pastinya 3-6 bulan pertama ada penurunan dari daya beli. Nanti penyesuaian masyarakat pada saat naik akan mengurangi," ucapnya.

Artikel terkait

Rekomendasi