Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7 persen untuk kuartal II 2026 pada Jumat (25/4/2026). Target tersebut diupayakan melalui pemberian stimulus, percepatan belanja negara, serta penguatan pembiayaan pada sektor industri padat karya guna menjaga momentum ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa peluang untuk mencapai angka pertumbuhan tersebut masih sangat terbuka luas. Dilansir dari Money, otoritas keuangan memiliki waktu hingga akhir Juni untuk mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang ada.
"Kita akan dorong ke sana (5,7%). Masih ada Mei dan Juni, nanti kita lihat data dan kasih dorongan lagi ke ekonomi," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.
Evaluasi terhadap data ekonomi akan dilakukan secara berkala untuk menentukan langkah lanjutan yang diperlukan. Pemerintah membuka opsi pemberian stimulus tambahan apabila ditemukan indikasi perlambatan aktivitas ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
Strategi utama yang disiapkan mencakup percepatan realisasi belanja pada setiap kementerian dan lembaga negara. Upaya ini diproyeksikan dapat mempercepat distribusi likuiditas ke tengah masyarakat dan menjaga daya beli melalui bantuan tunai serta kebijakan pendukung lainnya.
Purbaya turut menyoroti pergerakan harga komoditas global, seperti minyak kelapa sawit (CPO), yang dinilai tidak selalu membawa dampak negatif bagi Indonesia. Penyesuaian domestik akibat kenaikan harga global akan dikelola melalui penguatan koordinasi lintas kementerian guna menjaga stabilitas harga.
Dalam pengembangannya, pemerintah memilih untuk memaksimalkan program yang sudah berjalan dibandingkan meluncurkan kebijakan fiskal yang sepenuhnya baru. Fokus saat ini dialihkan pada optimalisasi sektor riil yang menyerap banyak tenaga kerja.
"Yang utama kita adalah memaksimalkan semua program di perekonomian berjalan dengan baik, bukan menambah stimulus baru," terang Purbaya, Menteri Keuangan.
Pemerintah meningkatkan komunikasi dengan para pelaku usaha untuk memetakan kendala lapangan, khususnya hambatan akses kredit pada industri tekstil dan alas kaki. Sektor ini dianggap masih memiliki potensi ekspor yang kuat jika mendapatkan dukungan pembiayaan yang tepat.
Optimalisasi peran lembaga keuangan seperti Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menjadi prioritas untuk menyediakan pinjaman bunga rendah bagi proyek prospektif. Penguatan dukungan juga akan disalurkan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
"Kalau memang menjanjikan, kita ingin menghidupkan semua industri yang bisa dihidupkan di dalam negeri," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.