Studi University of Denver Ungkap Potensi Perselingkuhan Berulang dalam Hubungan

Studi University of Denver Ungkap Potensi Perselingkuhan Berulang dalam Hubungan
Foto: Ilustrasi Studi University of Denver Ungkap Potensi Perselingkuhan Berulang dalam Hubungan.

Seseorang yang memiliki riwayat tidak setia disebut mempunyai peluang lebih besar untuk mengulangi tindakan serupa pada komitmen asmara berikutnya.

Kecenderungan tersebut terkuak melalui riset dari University of Denver yang mengamati dinamika problem kesetiaan sepanjang lima tahun, seperti dikutip dari Lifestyle.

Pemantauan yang melibatkan sekitar 1.600 orang dewasa belum menikah ini menunjukkan bahwa pelaku tindakan tersebut memiliki probabilitas tiga kali lipat untuk kembali tidak setia.

Selain pihak pelaku, individu yang mendapati pasangannya tidak setia juga menghadapi risiko lebih tinggi mengalami situasi yang sama dalam ikatan baru.

Peneliti utama Kayla Knopp menjelaskan bahwa memori dan kebiasaan dari masa lalu kerap terbawa ke dalam kedekatan yang baru, termasuk hal yang berkaitan dengan ketidaksetiaan.

"Pengalaman masa lalu berpengaruh dalam hubungan. Apa yang kita lakukan dalam hubungan sebelumnya bisa memengaruhi hubungan berikutnya, termasuk soal perselingkuhan," kata Knopp.

Walaupun terdapat kecenderungan data yang tinggi, Kayla Knopp mengonfirmasi bahwa indikasi ini tidak berlaku mutlak bagi setiap mantan pelaku.

"Ada banyak orang yang berhasil memutus pola itu," ujarnya.

Menurut pandangan Kayla Knopp, mengidentifikasi riwayat asmara terdahulu justru dapat mendorong seseorang untuk lebih protektif dan rasional dalam menentukan langkah ke depan.

Ia pun menambahkan bahwa problem kesetiaan tidak muncul akibat variabel tunggal, melainkan perpaduan dari prinsip hidup, kondisi ekosistem sosial, serta momentum.

Karakteristik Ketidaksetiaan Kronis

Psikoterapis klinis sekaligus konselor pasangan Jennifer Nurick menguraikan bahwa stigma mengenai pelaku yang tidak akan pernah berubah tidak sepenuhnya akurat.

"Saya rasa banyak orang belajar dari perselingkuhan karena tindakan itu memunculkan rasa guilt dan menyadarkan mereka bahwa mereka tidak ingin menyakiti pasangan lagi," kata Nurick.

Kendati demikian, pakar hubungan Sophie Howe menerangkan keberadaan kelompok individu yang memiliki kecenderungan melanggar komitmen secara kronis atau jamak disebut serial cheater.

Sophie Howe berpendapat bahwa problematika menahun ini berakar pada konflik internal yang mendalam, seperti krisis percaya diri, kecemasan terhadap komitmen, atau adiksi validasi.

"Perselingkuhan bisa menjadi kebiasaan dan bentuk sabotase diri jika akar masalahnya tidak diselesaikan," ujar Howe.

Identifikasi Respons Pasca-Kejadian

Guna membedakan antara kekhilafan temporer dan perilaku kronis, Sophie Howe menyarankan untuk mencermati respons emosional individu pasca-peristiwa terungkap.

Seseorang yang menunjukkan penyesalan autentik umumnya bersedia memikul tanggung jawab, transparan dalam memulihkan rasa percaya, dan kooperatif memperbaiki keadaan.

Sebaliknya, proteksi diri berlebih atau tindakan melemparkan kesalahan kepada pihak lain wajib diposisikan sebagai lampu merah.

"Kalau mereka meremehkan masalah, menolak membicarakannya, atau hanya berkata ÔÇÿsaya mabukÔÇÖ, itu bisa menjadi tanda bahaya," kata Howe.

Di sisi lain, Jennifer Nurick melihat peluang pemulihan ikatan yang retak tetap terbuka melalui keterlibatan aktif kedua belah pihak serta konseling profesional jika diperlukan.

"Tidak ada cara untuk benar-benar memastikan pasangan tidak akan selingkuh lagi. Tetapi memahami akar masalah dan membangun rasa aman bersama bisa membantu hubungan menjadi lebih sehat," ujar Nurick.

Melalui pemahaman komprehensif atas dinamika masa lalu, Kayla Knopp percaya individu dapat memegang kendali penuh atas masa depan asmara mereka.

"Dengan mengenali faktor risikonya, orang bisa punya lebih banyak kendali terhadap hidup dan hubungan mereka," kata Knopp.

Artikel terkait

Rekomendasi