Pertamina Terapkan Strategi Harga Pertamax Lebih Murah dari Nilai Pertalite

Pertamina Terapkan Strategi Harga Pertamax Lebih Murah dari Nilai Pertalite
Foto: Ilustrasi Pertamina Terapkan Strategi Harga Pertamax Lebih Murah dari Nilai Pertalite.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengungkapkan bahwa fenomena harga Pertamax yang lebih rendah dari nilai keekonomian Pertalite merupakan strategi bisnis Pertamina. Langkah ini bertujuan mendorong migrasi pengguna BBM subsidi ke bahan bakar yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan pada Rabu (1/4/2026).

Anomali harga terjadi di Indonesia di mana nilai keekonomian Pertalite (RON 90) menyentuh angka Rp 16.088 per liter, sementara Pertamax (RON 92) justru dijual seharga Rp 12.300 per liter. Dilansir dari Otomotif, selisih harga yang tipis ini seharusnya terjadi secara linear berdasarkan kualitas teknis, sebagaimana yang berlaku di pasar Singapura untuk produk RON 92 hingga RON 98.

Tri Yuswidjajanto Zaenuri yang juga pakar bahan bakar menjelaskan bahwa strategi tersebut berkaitan erat dengan penertiban aturan pembelian BBM bersubsidi melalui sistem barcode.

"Itu adalah strategi bisnis, supaya pengguna Pertalite mau berpindah ke Pertamax. Apalagi, setelah adanya penertiban barcode untuk bisa membeli BBM bersubsidi bagi kendaraan yang tidak sesuai dengan aturan," ujar Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas.

Yuswidjajanto menambahkan bahwa perpindahan konsumsi ini diharapkan mampu menekan beban anggaran negara sehingga dana tersebut dapat dialokasikan ke sektor pembangunan lainnya.

"Kalau migrasi itu terjadi, mestinya anggaran subsidi BBM bisa berkurang dan bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih bermanfaat," kata Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas.

Permasalahan distribusi subsidi juga menjadi poin krusial yang disoroti oleh Yuswidjajanto. Menurutnya, sistem subsidi yang melekat pada barang menyebabkan terjadinya kebocoran karena masyarakat golongan mampu masih bisa mengakses komoditas bersubsidi tersebut.

"Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang. Sehingga, BBM subsidi tidak bisa/boleh dibeli oleh orang yang mampu. Sayangnya, kesadaran itu belum tumbuh di masyarakat kita, sehingga kebocoran subsidi masih sangat besar," ujar Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas.

Mengenai harga Pertamax yang berada di kisaran Rp 12.000-an, terdapat perbedaan sumber dana dalam menekan harga tersebut dibandingkan dengan BBM penugasan seperti Pertalite.

Yuswidjajanto menambahkan, Pertamax bisa dijual di angka Rp 12.300 karena disubsidi oleh Pertamina, bukan oleh negara. Berbeda statusnya dengan Pertalite yang disubsidi pemerintah.

Artikel terkait

Rekomendasi