Strategi Baru Mengawal Perikanan Nusantara demi Indonesia Maju 2026 yang Berdaulat

Strategi Baru Mengawal Perikanan Nusantara demi Indonesia Maju 2026 yang Berdaulat
Foto: Strategi Baru Mengawal Perikanan Nusantara demi Indonesia Maju 2026 yang Berdaulat. (Illustration by Pexels)

Indonesia memiliki modal dasar yang sangat kuat di sektor ekologi, geografi, dan ekonomi untuk menjadi pemain utama dalam industri perikanan global. Berdasarkan luas wilayahnya, sekitar 75 persen area Indonesia adalah lautan dengan cakupan perairan mencapai 6,4 juta km² dari total 8,3 juta km² wilayah nasional.

Sebagai negara kepulauan terbesar, laut bukan hanya berperan sebagai penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi ruang produksi dan ruang hidup strategis. Badan Informasi Geospasial mencatat bahwa hingga tahun 2024, jumlah pulau di Indonesia mencapai 17.380 yang menegaskan pentingnya sektor ini.

Pembangunan di sektor kelautan dan perikanan seharusnya ditempatkan sebagai agenda utama nasional dan bukan sekadar urusan sektoral semata. Potensi besar ini perlu dipandang melalui perspektif manajemen biobisnis yang mengintegrasikan berbagai aspek penting dalam satu kesatuan sistem nilai.

Aspek-aspek tersebut meliputi ekologi, proses produksi, kelembagaan, penggunaan teknologi, sistem logistik, industri pengolahan, hingga kebijakan publik dan akses pasar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bahwa potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia menyentuh angka 12,01 juta ton setiap tahunnya.

Berikut adalah poin-poin mengenai potensi dan capaian ekonomi sektor perikanan nasional:

  • Potensi lestari ikan laut Indonesia mencapai 12,01 juta ton per tahun sebagai basis sumber daya utama.
  • Kontribusi PDB lapangan usaha perikanan pada tahun 2025 tercatat mencapai Rp610,75 triliun berdasarkan harga berlaku.
  • Nilai ekspor produk kelautan dan perikanan pada 2025 menembus angka USD6,27 miliar atau tumbuh 5,2 persen dibanding tahun sebelumnya.
  • Komoditas unggulan ekspor didominasi oleh udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, serta rumput laut.

Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah produksi, namun memastikan pengelolaan yang adil dan efisien. Keunggulan ekspor juga tidak boleh hanya dilihat dari nilai transaksi, melainkan dari besaran nilai tambah dan penguasaan teknologi dalam negeri.

Urgensi Kedaulatan dan Tata Kelola Perikanan

Negara yang berdaulat dalam perikanan adalah negara yang mampu mengatur, mengolah, dan memasarkan sumber dayanya secara mandiri dengan kapasitas nasional. Hal ini mencakup penguasaan data stok ikan, pengawasan laut, kepastian hukum usaha, hingga perlindungan terhadap nelayan skala kecil.

Tantangan yang dihadapi industri perikanan saat ini bersifat multidimensional, mulai dari sektor hulu hingga ke sektor hilir. Di bagian hulu, masalah produktivitas, akses permodalan, serta kualitas benih dan pakan masih menjadi kendala utama yang harus segera diselesaikan.

Sementara itu, di bagian tengah rantai nilai, infrastruktur pelabuhan dan sistem rantai dingin memerlukan penguatan yang lebih masif. Di sisi hilir, standardisasi mutu, sertifikasi, serta kemampuan diplomasi pasar menjadi syarat mutlak untuk meningkatkan daya saing produk lokal di kancah global.

Strategi pembangunan perikanan memerlukan pendekatan sistemik melalui beberapa langkah strategis:

  • Menghubungkan sektor perikanan tangkap dan budidaya dengan industri pengolahan secara terintegrasi.
  • Memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas masyarakat pesisir.
  • Melakukan transformasi paradigma dari ekonomi berbasis sumber daya menuju ekonomi biru berbasis pengetahuan.
  • Menerapkan digitalisasi pada rantai pasok dan sistem ketertelusuran produk untuk efisiensi data.

Tanpa penguatan manajemen dan pengetahuan, potensi besar perikanan Indonesia berisiko terjebak dalam pola lama di mana produksi tinggi namun keuntungan pelaku usaha tetap rendah. Pemanfaatan data pasar dan pemodelan stok ikan harus menjadi bagian inti dari tata kelola perikanan yang modern.

Hilirisasi sebagai Agenda Strategis Nasional

Hilirisasi harus dijadikan prioritas utama untuk mendorong komoditas unggulan seperti udang, tuna, hingga rumput laut menjadi produk bernilai tambah tinggi. Indonesia tidak boleh hanya berperan sebagai penyedia bahan mentah, tetapi harus menjadi pusat produksi pangan akuatik dunia.

Proses hilirisasi ini mencakup aspek pengemasan, diversifikasi produk, sertifikasi internasional, hingga penguatan citra merek nasional di pasar luar negeri. Melalui penguatan UMKM pengolahan dan korporasi pembudidaya, nilai ekonomi diharapkan dapat mengalir kembali ke masyarakat di kawasan pesisir.

Ringkasan target pengembangan komoditas perikanan bernilai tambah tinggi:

Kategori Komoditas Target Pengembangan Fokus Utama
Komoditas Utama Udang, Tuna, Cakalang, Rumput Laut Ekspor dan Nilai Tambah
Komoditas Budidaya Nila, Patin, Lele, Bandeng Ketahanan Pangan dan Inovasi
Sektor Pendukung UMKM, Koperasi, Korporasi Nelayan Penguatan Ekonomi Pesisir

Data di atas menekankan bahwa kemitraan industri menjadi instrumen penting agar keuntungan ekonomi tidak hanya menumpuk di pihak eksportir hilir. Dengan demikian, kesejahteraan nelayan dan pembudidaya sebagai pelaku utama dapat meningkat secara signifikan seiring pertumbuhan industri.

Pada akhirnya, menjaga kedaulatan perikanan nusantara adalah bagian dari upaya mengawal masa depan kemajuan bangsa Indonesia. Sektor perikanan yang maju hanya bisa terwujud jika pembangunan ekonomi selaras dengan keberlanjutan ekologi dan penguatan kelembagaan yang ada.

Peringatan tiga dekade Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi kebijakan. Perikanan harus dikelola secara profesional sebagai jalan strategis menuju Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan kompetitif di mata dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi