PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) menjamin ketersediaan stok beras untuk wilayah DKI Jakarta berada dalam posisi stabil. Berdasarkan data per 26 April 2026, volume beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tercatat menyentuh angka 47.449 ton.
Kepastian kecukupan pangan ini dilansir dari Megapolitan melalui keterangan resmi pada Selasa (27/4/2026). Direktur Utama Food Station, Dodot Tri Widodo, menyatakan bahwa jumlah cadangan tersebut sangat memadai untuk memenuhi konsumsi harian warga ibu kota.
"Berdasarkan pencatatan kami, stok beras di PIBC masih dalam level aman. Per 26 April 2026 mencapai 47.449 ton, dengan rata-rata beras yang masuk dan keluar per hari hingga 2.500 ton," ujar Dodot Tri Widodo, Direktur Utama Food Station.
Manajemen Food Station menerapkan strategi pasar murah secara berkala guna mengendalikan stabilitas harga di tingkat konsumen. Berbagai bahan pokok utama seperti telur, tepung, gula, minyak goreng, dan beras dipasarkan sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Keamanan pasokan untuk program pangan bersubsidi juga menjadi prioritas perusahaan melalui kolaborasi aktif dengan sentra produksi di berbagai daerah. Upaya ini melibatkan sinkronisasi kerja sama dengan para pelaku usaha penggilingan hingga gabungan kelompok tani.
"Kami memastikan stok beras untuk program pangan bersubsidi aman. Food Station telah bekerja sama dengan sejumlah gabungan kelompok tani (gapoktan), penggilingan, serta pelaku usaha di daerah produsen untuk memasok bahan baku beras," kata Dodot Tri Widodo, Direktur Utama Food Station.
Distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) turut diperluas jangkauannya bersama Perum Bulog. Penyaluran dilakukan secara masif melalui berbagai lini, mulai dari pedagang kelontong hingga jaringan koperasi di Jakarta.
"Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran distribusi dan stabilisasi harga beras di Jakarta," tegas Dodot Tri Widodo, Direktur Utama Food Station.
Namun, dalam rapat bersama Komisi C DPRD DKI Jakarta pada Senin (28/4/2026), Dodot memaparkan adanya tantangan signifikan terkait tingginya biaya produksi. Kondisi saat ini menunjukkan beban produksi telah melewati batas HET yang ditetapkan pemerintah.
Situasi tersebut memaksa perusahaan mengambil kebijakan untuk menunda sementara pengiriman beras ke sektor ritel modern. Langkah ini diambil guna menghindari potensi kerugian operasional yang lebih besar bagi perusahaan daerah tersebut.
"Permintaan dari Indomaret, Alfamart, kemudian Superindo, kami masih pending dulu, karena kalau kami penuhi, rugi pak rugi," ungkap Dodot Tri Widodo, Direktur Utama Food Station.