S&P 500 Melemah Tiga Hari Beruntun pada Penutupan Januari 2026

S&P 500 Melemah Tiga Hari Beruntun pada Penutupan Januari 2026
Foto: Ilustrasi S&P 500 Melemah Tiga Hari Beruntun pada Penutupan Januari 2026.

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Jumat (30/1/2026) waktu setempat akibat tekanan sektor teknologi dan volatilitas komoditas logam mulia. Dilansir dari Investortrust, indeks S&P 500 merosot 0,43 persen ke level 6.939,03 yang menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut di penghujung bulan Januari.

Dow Jones Industrial Average turut terkoreksi 179 poin atau 0,36 persen menjadi 48.892,47, sementara Nasdaq Composite anjlok 0,94 persen ke posisi 23.461,82. Meskipun terjadi pelemahan pada akhir pekan, ketiga indeks utama tetap membukukan kinerja positif sepanjang Januari dengan kenaikan S&P 500 sebesar 1,4 persen.

Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada keputusan Presiden Donald Trump yang memilih Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve. Trump memberikan dukungan penuh terhadap pilihannya melalui platform media sosial dalam menanggapi suksesi kepemimpinan bank sentral tersebut.

"Saya telah mengenal Kevin sejak lama, dan saya tidak ragu dia akan tercatat sebagai salah satu Ketua The Fed terhebat, mungkin yang terbaik," komentar Trump dalam unggahan di Truth Social.

Penunjukan Warsh dinilai memberikan sentimen positif bagi independensi moneter karena pengalamannya sebagai mantan gubernur bank sentral. Richard Saperstein selaku Chief Investment Officer Treasury Partners menilai langkah ini sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar keuangan.

"Penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed persis seperti yang diharapkan pasar, karena ia dikenal sebagai figur yang stabil, dikenal luas di kalangan pasar, dan diperkirakan akan menjaga independensi bank sentral, yang sangat penting bagi pasar. Yang terpenting, Warsh menghadapi sedikit hambatan untuk mendapatkan persetujuan Senat," urai Richard Saperstein, Chief Investment Officer Treasury Partners.

Di sisi lain, pasar komoditas mengalami guncangan hebat dengan harga emas spot jatuh sekitar 9 persen dan perak anjlok hingga 28 persen. Penurunan tajam iShares Silver Trust (SLV) sebesar 28 persen pada sesi Jumat menjadi rekor terburuk sepanjang sejarah instrumen tersebut akibat pembalikan posisi spekulatif.

Kepala strategi pasar Miller Tabak, Matt Maley, menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan harian yang masif. Penurunan harga yang sangat cepat memaksa terjadinya likuidasi posisi di pasar logam.

"Ini merupakan aset terpanas bagi day trader dan trader jangka pendek belakangan ini," kata Maley.

Tekanan jual juga dipicu oleh kewajiban penyetoran margin tambahan bagi para spekulan yang menggunakan daya ungkit tinggi. Maley menekankan adanya penumpukan pengaruh dalam perdagangan perak yang memicu kondisi pasar saat ini.

"Ada leverage yang terbangun di perak. Dengan penurunan tajam hari ini, margin call pun bermunculan," kata Maley.

Sektor korporasi menunjukkan performa beragam di mana saham Verizon melonjak hampir 12 persen, mencatatkan hari terbaiknya sejak 2008 berkat laporan laba yang melampaui estimasi. Namun, saham teknologi seperti Microsoft dan Apple tetap berada di bawah tekanan setelah rilis laporan keuangan pekan ini.

Artikel terkait

Rekomendasi