Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang, dikenal sebagai sosok yang tangguh namun tetap menjaga kesederhanaan dalam setiap langkah pengabdiannya. Dirgayuza Setiawan berbagi kisah mengenai pengalaman selama dua dekade mendampingi Prabowo Subianto, di mana ia melihat Nanik sebagai salah satu sahabat perempuan yang paling diandalkan.
Persahabatan antara Prabowo dan Nanik sendiri bermula sekitar 13 tahun yang lalu, menjelang perhelatan Pemilu 2014. Kala itu, Prabowo mengunjungi kantor redaksi The Politics di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang dipimpin langsung oleh Nanik.
Pertemuan yang berlangsung di suatu sore yang cerah tersebut dibuka dengan obrolan hangat ditemani beberapa cangkir kopi. Nanik menyuguhkan kopi untuk tamu-tamunya, sementara Prabowo membawa kopi sendiri di dalam termos, yang kini populer dengan sebutan Kopi Hambalang.
Awalnya, agenda tersebut direncanakan hanya berlangsung singkat sebagai kunjungan biasa. Namun, percakapan justru mengalir hingga berjam-jam karena kemampuan Nanik dalam membangun komunikasi yang sangat mendalam.
Sisi Humanis dan Kemampuan Diplomasi
Nanik disebut memiliki aura khusus yang mampu memancing sisi terbaik dari lawan bicaranya secara natural. Pada hari itu, Prabowo Subianto menunjukkan visi dan gagasan terbaiknya dalam sebuah diskusi yang intens dan bermakna.
Hasil dari pertemuan tersebut adalah sebuah wawancara resmi di kantor DPP Gerindra yang hingga kini dianggap sebagai salah satu rekam jejak terbaik Prabowo. Video wawancara tersebut masih dapat diakses publik melalui platform YouTube sebagai referensi sejarah perjalanan karier politiknya.
Banyak poin yang dibahas dalam wawancara belasan tahun lalu itu kini telah terbukti secara nyata seiring berjalannya waktu. Cita-cita yang dahulu mungkin terdengar mustahil, kini mulai diwujudkan satu demi satu di tengah masyarakat Indonesia.
Namun, peran Nanik dalam mendukung perjalanan politik Prabowo tidak hanya terbatas pada urusan komunikasi media. Ia dikenal sebagai sosok penggerak yang memiliki kepekaan sosial sangat tinggi terhadap berbagai masalah ketidakadilan di sekitarnya.
Beberapa aksi nyata yang digerakkan oleh Nanik S. Deyang antara lain:
- Menjadi sosok utama yang melaporkan kasus Wilfrida Soik, pekerja migran NTT yang terancam hukuman mati di Malaysia, kepada Prabowo Subianto.
- Mendorong Prabowo untuk membiayai tim pengacara hukum terbaik guna membela hak-hak Wilfrida hingga ia terbebas dari jerat hukum.
- Mengusulkan program inovatif berupa pengadaan dan pembagian becak listrik bagi para pengayuh becak yang sudah berusia lanjut.
- Berupaya membantu masyarakat kecil agar memiliki penghasilan yang lebih layak serta menjalani hidup dengan lebih bermartabat melalui teknologi sederhana.
Seluruh inisiatif tersebut lahir dari empati mendalam yang dimiliki Nanik terhadap kesulitan yang dihadapi oleh rakyat kecil. Ia tidak pernah bisa berdiam diri ketika melihat orang lain berada dalam posisi yang terdesak atau diperlakukan tidak adil.
Integritas di Badan Gizi Nasional
Ketika dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), karakter pekerja keras Nanik sama sekali tidak mengalami perubahan. Ia tetap memilih untuk aktif bergerak daripada sekadar menikmati kenyamanan di balik meja kantornya yang mewah.
Nanik menggagas agenda "Sidak BGN" untuk meninjau langsung kondisi dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis di berbagai wilayah. Baginya, sebuah kebijakan hebat tidak akan berarti jika tidak diimplementasikan dengan pengawasan lapangan yang ketat.
Ia sangat menyadari bahwa angka-angka di atas kertas laporan sering kali terlihat sempurna tanpa cela. Namun, kualitas asupan gizi untuk anak-anak Indonesia hanya bisa dipastikan melalui pantauan langsung secara fisik.
Langkah konkret yang dilakukan Nanik saat turun ke lapangan meliputi:
| Aspek Pengawasan | Tindakan di Lapangan |
|---|---|
| Kebersihan Fasilitas | Memeriksa langsung standar sanitasi di setiap dapur pengolahan makanan. |
| Kualitas Bahan | Mengecek kesegaran dan nilai gizi bahan makanan yang akan disajikan. |
| Dialog Petugas | Berdiskusi dengan pengelola untuk mendengar kendala yang dihadapi. |
| Solusi Cepat | Mencari jalan keluar atas masalah teknis yang ditemukan di lokasi sidak. |
Tabel di atas merangkum bagaimana cara kerja Nanik yang sangat mengutamakan detail dalam menjamin keberhasilan program pemerintah. Setelah menyelesaikan masalah di satu titik, ia biasanya langsung bergegas menuju lokasi berikutnya tanpa membuang waktu.
Filosofi Sepatu Kets dan Penghargaan Istana
Dari sekian banyak pencapaiannya, satu hal yang paling diingat oleh rekan-rekan terdekatnya adalah sepatu kets yang selalu ia gunakan. Sepatu tersebut menjadi simbol kegesitan Nanik dalam bekerja dari satu tempat ke tempat lainnya.
Sepatu kets itu telah menemaninya masuk ke dapur-dapur umum, meninjau sekolah-sekolah di pelosok, hingga bertemu dengan warga desa. Baginya, kenyamanan untuk bergerak lincah jauh lebih penting dibandingkan sekadar penampilan formal yang kaku.
Ada sebuah cerita unik saat Nanik menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia di Istana Negara dengan tetap memakai sepatu kets. Saat itu, ia sedang bertugas di Solo dan mendadak diminta segera hadir ke Jakarta untuk upacara penghargaan.
Pihak protokol mengabarkan bahwa ia hanya memiliki waktu tiga jam sebelum acara di Istana dimulai. Tanpa persiapan busana formal, ia terpaksa membeli baju batik seadanya di bandara agar tetap terlihat sopan.
Namun, Nanik tidak sempat mengganti sepatunya karena keterbatasan waktu yang sangat mendesak. Sepatu kets yang kotor terkena debu sidak di lapangan itulah yang akhirnya ia bawa masuk ke dalam kemegahan Istana Negara.
Di bawah kilauan lampu kristal dan di hadapan para pejabat tinggi, sepatu kets tersebut tetap melekat di kakinya. Kejadian ini justru menjadi bukti otentik bahwa dedikasi Nanik di lapangan melampaui segala protokoler yang ada.
Pesan moral dari perjalanan karier Nanik S. Deyang:
- Tanda kehormatan sejati bukanlah sekadar medali, melainkan manfaat nyata yang dirasakan oleh rakyat di lapangan.
- Jabatan publik adalah amanah untuk bekerja lebih keras, bukan sekadar untuk mengejar prestise atau kemewahan.
- Pemimpin perempuan yang hebat adalah mereka yang bersedia turun langsung untuk memastikan semua pekerjaan selesai dengan sempurna.
Kini, setelah resmi dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, harapan besar diletakkan di pundaknya. Publik percaya bahwa ia akan terus membawa semangat "sepatu kets" dalam setiap kebijakan yang diambilnya nanti.
Kehadiran pemimpin seperti Nanik memberikan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera. Jika Anda melihatnya berjalan cepat dengan sepatu ketsnya, itu adalah pertanda bahwa ia sedang bekerja demi bangsa.
Tulisan ini merupakan catatan refleksi dari Dirgayuza Setiawan tertanggal 3 Juni 2026 mengenai sosok pemimpin yang konsisten. Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang mengutamakan hasil nyata daripada sekadar formalitas di balik meja.