Andy Roxburgh Sebut Sepak Bola Klub Elite Eropa Sulit Dibandingkan dengan Tim Nasional

Andy Roxburgh Sebut Sepak Bola Klub Elite Eropa Sulit Dibandingkan dengan Tim Nasional
Foto: Ilustrasi Andy Roxburgh Sebut Sepak Bola Klub Elite Eropa Sulit Dibandingkan dengan Tim Nasional.

Kualitas permainan di Piala Dunia sering kali memicu pertanyaan mengenai apakah turnamen tersebut benar-benar menjadi panggung sepak bola terbaik di dunia. Kekuatan finansial yang sangat kuat membuat klub elite Eropa memiliki konsentrasi talenta yang sangat besar dibanding mayoritas tim nasional.

Seperti dikutip dari Bola, pertandingan terbaik justru sering muncul pada fase akhir Liga Champions UEFA, salah satunya laga Paris Saint-Germain melawan Bayern Muenchen yang berakhir dengan skor 5-4. Situasi ini membuat tim nasional sulit menyamai level permainan klub elite.

Mantan pelatih Skotlandia, Andy Roxburgh, menilai pertandingan internasional dan sepak bola klub elite tidak bisa dibandingkan secara langsung karena masing-masing memiliki karakter sendiri.

"I rasa Anda tidak dapat membandingkan pertandingan internasional dengan sepak bola klub elite. Masing-masing memiliki karakternya sendiri," kata Roxburgh, dikutip dari AFP pada Selasa (19/5/2026).

Roxburgh yang kini menjabat direktur teknik Konfederasi Sepak Bola Asia menjelaskan bahwa pelatih tim nasional menghadapi tantangan berbeda karena tidak bisa membeli pemain.

"Dalam sepak bola internasional, tidak ada bursa transfer. Anda memilih dan menggunakan apa yang tersedia," ujar Roxburgh.

Keterbatasan tersebut membuat pelatih tim nasional harus lebih pragmatis dalam menyusun strategi permainan. Roxburgh menambahkan bahwa laga internasional memiliki jumlah pertandingan yang lebih sedikit, namun mendapatkan sorotan yang jauh lebih besar.

"Di kancah internasional, karena jumlah pertandingan lebih sedikit, dan biasanya pertandingan-pertandingan tersebut berprofil tinggi, hasilnya diperbesar dan dibesar-besarkan," katanya kepada AFP dari Kuala Lumpur.

Pelatih tim nasional dituntut menyatukan para pemain dari berbagai klub dalam waktu relatif singkat. Pengaruh cara bermain di klub masing-masing tetap memberikan dampak besar terhadap performa di tim nasional.

"Seorang manajer tim nasional menyatukan para pemain, menambahkan filosofinya sendiri, dan budaya nasional diperhitungkan. Tetapi cara para pemain bermain di klub mereka memiliki pengaruh yang sangat besar," ucap Roxburgh.

Tim nasional Spanyol saat menjuarai Euro secara beruntun dan Piala Dunia 2010 menjadi contoh nyata, di mana mereka sangat bergantung pada kerangka permainan Barcelona yang mendominasi Eropa.

Tim-tim papan atas dunia kini berpeluang besar meminjam elemen permainan dari level klub seiring kemajuan sistem permainan modern. Pendekatan ini dapat menguntungkan tim kuat Eropa, Amerika Selatan, hingga negara seperti Maroko, Senegal, dan Jepang.

Strategi Transisi Cepat dan Pressing Tinggi

Serangan balik cepat menjadi salah satu elemen penting sepak bola modern, seperti yang ditunjukkan PSG di Liga Champions atau Argentina saat mencetak gol kedua ke gawang Perancis pada final Piala Dunia 2022.

Pelatih Perancis, Didier Deschamps, menyebut peralihan dari fase bertahan ke menyerang saat lawan tidak memiliki waktu menjadi momen paling menentukan dalam pertandingan.

"Momen kunci dalam pertandingan sepak bola adalah peralihan dari fase bertahan ke fase menyerang, ketika lawan tidak punya waktu," kata Deschamps beberapa bulan setelah final Piala Dunia 2022.

Banyak tim papan atas kini menerapkan pressing tinggi untuk merebut bola secepat mungkin di area lawan. Roxburgh, yang memantau perubahan sepak bola sejak melatih Skotlandia pada Piala Dunia 1990, menyebut kecepatan permainan sebagai perubahan terbesar.

"Yang telah berubah adalah kecepatan permainan. Tekanan pada bola jauh lebih intens," ujar Roxburgh.

Roxburgh menilai permainan kolektif di tingkat internasional saat ini sudah jauh lebih canggih dibandingkan masa lalu.

"Dulu sangat bergantung pada bintang-bintang individu, sekarang bintang-bintang bermain untuk tim," kata Roxburgh.

Tantangan Cuaca dan Pemanfaatan Bola Mati

Taktik pressing tinggi menghadapi tantangan besar dari cuaca panas musim panas di Amerika Utara pada Piala Dunia mendatang. Taktik ini menguras energi besar karena pemain harus terus bergerak menekan lawan.

Roxburgh mengkhawatirkan jeda minum yang disiapkan dalam pertandingan belum tentu cukup untuk menjaga intensitas permainan.

"Saya tahu kita akan memiliki jeda minum air, tetapi itu mungkin tidak cukup untuk memungkinkan tim untuk menekan dan bermain dengan intensitas tinggi," kata Roxburgh.

Kanada di bawah Jesse Marsch dianggap mungkin mampu menerapkan taktik ini karena sangat mengandalkan pendekatan tersebut. Namun, Roxburgh meragukan strategi serupa bisa berjalan mudah di beberapa wilayah Amerika Serikat atau Meksiko.

"Jesse Marsch, yang sangat mengandalkan pressing tinggi di Kanada, mungkin bisa melakukannya, tetapi saya tidak yakin bahwa di beberapa bagian AS atau bahkan Meksiko akan mudah untuk melakukannya," ujar Roxburgh.

Selain transisi, skema bola mati dan lemparan jauh berpotensi menjadi senjata penting seperti yang banyak terjadi di Liga Premier musim ini. Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, memprediksi pola-pola tersebut akan kembali memegang peran penting.

"Hal-hal ini akan penting. Semua pola ini kembali dan umpan silang juga kembali," kata Tuchel pada awal musim ini.

Situasi tendangan sudut, tendangan bebas, hingga lemparan jauh memberikan peluang menciptakan gol tanpa harus mendominasi permainan terbuka. Jeda hidrasi selama tiga menit dari FIFA di tengah babak juga memberikan ruang bagi pelatih untuk memberikan instruksi taktis.

Mantan gelandang Brasil, Gilberto Silva, yang menjadi bagian dari kelompok studi teknis FIFA, menilai jeda tersebut menjadi momen besar bagi pelatih dari sudut pandang taktis.

"Ini bisa menjadi momen besar bagi pelatih dari sudut pandang taktis," kata Gilberto.

Gilberto menambahkan bahwa pelatih kini memiliki keuntungan besar dengan adanya dua kesempatan lagi untuk melakukan penyesuaian strategi setelah jeda babak pertama.

"Sekarang mereka memiliki dua kesempatan lagi, setelah jeda babak pertama, untuk melakukan perubahan. Itu adalah keuntungan besar bagi mereka," ujar Gilberto.

Artikel terkait

Rekomendasi