Sektor Manufaktur Indonesia Ekspansi di Kuartal I 2026 Meski Tertekan

Sektor Manufaktur Indonesia Ekspansi di Kuartal I 2026 Meski Tertekan
Foto: Ilustrasi Sektor Manufaktur Indonesia Ekspansi di Kuartal I 2026 Meski Tertekan.

Aktivitas sektor manufaktur Indonesia berhasil mempertahankan tren ekspansi sepanjang kuartal I/2026 sebelum akhirnya mulai dibayangi peningkatan biaya produksi dan hambatan pasokan pada awal kuartal II/2026. Kondisi ini terpantau dari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/6/2026).

Badan Pusat Statistik melaporkan Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur Indonesia (IKBM) pada kuartal I/2026 berada di level 51,37, yang menunjukkan pertumbuhan karena melampaui ambang batas 50. Data tersebut, sebagaimana dilansir dari Ekonomi, mencerminkan ketangguhan industri di tengah dinamika ekonomi.

Berdasarkan rincian komponen IKBM, sektor pesanan mencatat angka 52,69, diikuti produksi 51,78, persediaan bahan baku 51,54, dan tenaga kerja 50,57. Namun, komponen waktu pengiriman pemasok menjadi titik lemah karena mengalami kontraksi di level 49,01.

Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa performa manufaktur pada awal tahun ini mendapat sokongan kuat dari tingkat konsumsi rumah tangga. Faktor momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran turut menjadi pendorong utama aktivitas pabrikan.

ÔÇ£Perubahan arah ini yang langsung tertangkap oleh Purchasing ManagersÔÇÖ Index [PMI]. Menariknya, tanda-tanda awal sebenarnya sudah muncul di Q1,ÔÇØ ujarnya menanggapi data Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur Indonesia (IKBM) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (5/6/2026).

Yusuf membandingkan data IKBM yang bersifat retrospektif terhadap kuartal I dengan data PMI April 2026 yang sudah menyentuh angka 49,1. Penurunan ini menandakan transisi kondisi industri memasuki fase yang lebih menantang di kuartal kedua.

ÔÇ£Kalau ditarik ke kuartal I, PMI juga masih berada di zona ekspansi. Januari 52,6, Februari 53,8, dan Maret 50,1. Rata-ratanya masih di atas 50, sejalan dengan IKBM di 51,37,ÔÇØ sebut Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Core Indonesia.

Dalam analisisnya, Yusuf menekankan perlunya intervensi kebijakan pemerintah untuk mengendalikan biaya energi dan logistik. Hal ini penting guna melindungi sektor padat karya serta menjaga ketersediaan likuiditas bagi para pelaku usaha kecil melalui akses kredit modal kerja.

ÔÇ£Untuk usaha kecil, akses kredit modal kerja yang lebih ringan juga penting agar tidak langsung tertekan di sisi likuiditas,ÔÇØ kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Core Indonesia.

Tantangan lain yang muncul adalah membanjirnya barang impor murah yang mengancam daya saing produk domestik, terutama pada industri tekstil. Yusuf menyarankan adanya skema perlindungan tenaga kerja agar fluktuasi ekonomi tidak langsung berdampak pada pengurangan karyawan.

ÔÇ£Setidaknya memberi waktu agar penyesuaian tidak langsung berujung ke pemutusan hubungan kerja,ÔÇØ sebut Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Core Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi