Aktris Scarlett Johansson mengkritik keras budaya kerja di industri Hollywood awal era 2000-an yang dinilai sangat objektif dan kejam terhadap perempuan muda dalam sebuah wawancara pada Minggu (12/4/2026). Johansson menyebut bahwa pada masa tersebut, penilaian publik terhadap fisik seorang aktris dianggap sebagai norma sosial yang wajar.
Dilansir dari Detikcom melalui laporan Variety, bintang film Avengers ini menjelaskan bahwa lingkungan kerja bagi aktris pemula di masa lalu jauh lebih menekan dibandingkan kondisi saat ini. Menurutnya, standar industri memaksa perempuan untuk mengikuti "permainan" yang mengeksploitasi penampilan mereka.
"Dulu, sangat bisa diterima secara sosial untuk kurang lebih menelanjangi atau menguliti penampilan fisik seorang aktris muda. Hal itu seolah-olah sudah menjadi bagian dari 'permainan' yang harus dijalani," kata Scarlett Johansson dalam program CBS Sunday Morning.
Tekanan tersebut berdampak pada terbatasnya pilihan peran yang ditawarkan kepada Johansson di awal usia 20-an. Ia mengaku merasa terjebak dalam stereotip karakter yang sangat menggoda atau peran sebagai perempuan simpanan akibat citra sensual yang dipaksakan oleh industri.
Johansson menilai karier awalnya lebih banyak diarahkan untuk memenuhi fantasi visual penonton daripada mengeksplorasi kemampuan aktingnya sebagai seniman. Hal ini sempat membuatnya merasa tidak aman karena terus-menerus diawasi dari sudut pandang yang dangkal oleh media dan publik.
Meskipun memiliki pengalaman pahit, Johansson menyatakan optimisme terhadap perubahan budaya di Hollywood berkat adanya berbagai gerakan kesetaraan. Ia mengapresiasi ruang yang lebih aman bagi generasi aktris muda saat ini untuk berkembang tanpa harus terikat pada satu label tertentu.
Menurut Johansson, aktor muda sekarang memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal sebagai aktor karakter berdasarkan bakat mereka. Perubahan ini memungkinkan nilai seorang aktris tidak lagi ditentukan hanya oleh standar kecantikan fisik yang tidak realistis di mata industri film global.