Raksasa teknologi Samsung memproyeksikan krisis memori global akan terus berlanjut hingga tahun 2027 akibat tingginya permintaan pusat data kecerdasan buatan (AI). Pengumuman ini disampaikan pada Sabtu (2/5/2026) bersamaan dengan rilis laporan keuangan kuartal pertama yang mencatat pertumbuhan laba signifikan.
Kesenjangan pasokan yang lebar diprediksi akan memicu kenaikan harga pada perangkat smartphone, PC, dan konsol gim. Dilansir dari Detik iNET, lonjakan permintaan industri AI telah menguras kapasitas produksi produsen memori terbesar di dunia tersebut.
Eksekutif bisnis chip memori Samsung, Kim Jaejune, menegaskan bahwa ketersediaan barang saat ini masih belum mampu mengimbangi pesanan yang masuk dari para mitra bisnis.
"Pasokan kami jauh di bawah permintaan pelanggan," kata Kim Jaejune, eksekutif bisnis chip memori Samsung.
Penegasan mengenai kondisi pasar di masa depan juga disampaikan oleh manajemen. Samsung melihat tren ketimpangan antara ketersediaan barang dan kebutuhan pasar justru akan menunjukkan grafik yang semakin mengkhawatirkan pada tahun-tahun mendatang.
"Berdasarkan permintaan yang diterima saat ini untuk tahun 2027, kesenjangan antara pasokan dan permintaan untuk tahun 2027 diperkirakan akan semakin melebar dibandingkan tahun 2026," sambung Kim Jaejune.
Meskipun terjadi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Samsung mengonfirmasi bahwa operasional manufaktur mereka tetap berjalan stabil. Hal ini dimungkinkan karena perusahaan telah melakukan diversifikasi sumber gas dan mengamankan stok bahan baku produksi lebih awal.
Risiko utama yang kini diwaspadai perusahaan adalah pembengkakan biaya logistik yang dipicu oleh fluktuasi harga minyak mentah. Untuk menjaga stabilitas, Samsung tengah berkoordinasi dengan pemerintah Korea Selatan guna memastikan ketersediaan pasokan listrik bagi pabrik-pabrik mereka.
Pembagian kapasitas produksi saat ini lebih diprioritaskan untuk chip canggih pendukung akselerator AI. Dampaknya, produksi memori konvensional untuk perangkat elektronik konsumen menurun drastis sehingga harganya di pasar retail terus merangkak naik.
Secara finansial, divisi chip Samsung membukukan laba operasional sebesar 53,7 triliun won pada Q1 2026. Angka tersebut melompat jauh dari raihan 1,1 triliun won pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total pendapatan korporasi naik 69 persen menjadi 133,9 triliun won.