PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan lima saham emiten besar dari indeks LQ45 untuk periode 4 Mei hingga 31 Juli 2026 yang berpotensi memicu tekanan jual jangka pendek. Dilansir dari Money, langkah ini memaksa investor institusi pasif melakukan penyesuaian portofolio menyusul perubahan komposisi indeks utama tersebut.
Daftar saham yang terdepak dari indeks prestisius tersebut meliputi PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Selain itu, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga resmi keluar dari perhitungan LQ45.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi logis dari rebalancing yang dilakukan oleh pengelola dana. Menurut penjelasannya, aliran dana asing akan cenderung keluar dari emiten-emiten yang tidak lagi menjadi konstituen indeks.
"Efek outflow dana index sih. Kalau outflow sih pasti ada emiten yang keluar seperti BREN, CTRA, DSSA, HEAL, NCKL. Tentunya ini mengalami tekanan jual wajar," ujar Nafan, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa menambahkan bahwa tekanan terhadap harga saham tersebut masih akan mendominasi pasar dalam waktu dekat. Hal ini diperparah dengan adanya risiko penghapusan saham BREN dan DSSA dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Tekanannya masih dominan. Selama resiko keluar dari MSCI dan indeks BEI belum selesai, arah harga cenderung volatile cenderung turun karena hilangnya demand dari dana pasif," ujar Reydi, Pengamat Pasar Modal.
Reydi juga menyoroti status High Shareholders Concentration (HSC) yang disematkan pada saham-saham tertentu sehingga mengurangi minat investor institusi untuk masuk. Rendahnya likuiditas dan struktur kepemilikan yang terpusat membuat harga menjadi sangat sensitif terhadap perubahan permintaan.
"Status HSC membuat saham jadi kurang investable, likuiditas tipis, dan mudah digerakkan. Investor institusi cenderung menghindari, sehingga volatilitas makin tinggi," papar Reydi, Pengamat Pasar Modal.
Emiten diharapkan dapat memperbaiki distribusi saham kepada publik guna memitigasi risiko pergerakan harga yang ekstrem di masa mendatang. Tanpa adanya transparansi dan peningkatan rasio free float, saham-saham tersebut dinilai akan sulit kembali masuk ke dalam radar indeks global.
"Menambah free float, perbaiki distribusi saham, dan tingkatkan transparansi. Tanpa itu, sulit saham ini di lirik indeks global," tukas Reydi, Pengamat Pasar Modal.
Terkait strategi bagi pemegang saham, Reydi menyarankan investor ritel untuk bersikap waspada dan memanfaatkan momentum pemulihan harga teknis untuk mengurangi posisi. Ia tidak merekomendasikan pembelian bertahap di saat harga turun karena risiko kerugian yang masih lebar.
"Sebaiknya wait and see. Masuk hanya jika ada katalis jelas seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk indeks. Tanpa itu, risk-reward masih tidak menarik," kata Reydi, Pengamat Pasar Modal.