Saham DSSA dan BREN Terancam Keluar dari Indeks MSCI

Saham DSSA dan BREN Terancam Keluar dari Indeks MSCI
Foto: Ilustrasi Saham DSSA dan BREN Terancam Keluar dari Indeks MSCI.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terancam keluar dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Selasa (21/4/2026). Dilansir dari Money, potensi penghapusan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration (HSC) pada kedua emiten tersebut.

Kebijakan MSCI dalam tinjauan Mei 2026 menegaskan pembatasan terhadap saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi karena dinilai berisiko terhadap likuiditas serta aksesibilitas investasi bagi investor global. DSSA dan BREN menjadi fokus utama karena memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar di sektor energi dan infrastruktur.

Dampak dari kebijakan ini terlihat pada tekanan harga saham di lantai bursa, di mana DSSA merosot 13,15 persen ke level Rp 2.840 pada sesi pertama perdagangan Selasa. Sementara itu, BREN tercatat melemah sebesar 7,20 persen ke area Rp 6.125 setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di Rp 6.600.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, memberikan analisis mengenai dampak sektoral dari keputusan evaluasi indeks tersebut.

"Sektor yang paling terdampak adalah energi dan infrastruktur. Hal ini tidak lepas dari peran DSSA dan BREN yang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) sangat besar, sehingga fluktuasi pada kedua saham tersebut secara langsung menjadi pemberat bagi performa sektor masing-masing sekaligus menekan laju IHSG secara keseluruhan," ujar Azharys.

Azharys menambahkan bahwa meskipun keputusan ini menjadi sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia, pelemahan harga yang terjadi relatif terbatas. Hal ini disebabkan oleh langkah antisipasi yang telah dilakukan oleh para pelaku pasar sebelumnya.

"Jika melihat dinamika pasar pada pembukaan perdagangan 21 April, pelemahan yang terjadi menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sudah mengantisipasi atau priced-in terhadap keputusan ini," papar Azharys.

Investor tetap perlu mewaspadai risiko teknis berupa potensi arus keluar dana pasif (passive funds) yang diperkirakan mencapai Rp 15 triliun. Secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,59 persen ke posisi 7.549,40 pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah merilis daftar emiten yang masuk kategori HSC per 31 Maret 2026 guna menjaga transparansi. Data tersebut menunjukkan terdapat sejumlah emiten dengan tingkat konsentrasi kepemilikan oleh kelompok tertentu di atas 95 persen.

Daftar Emiten dengan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi (HSC)
Nama EmitenKode SahamKonsentrasi Kepemilikan (%)
PT Satria Mega Kencana TbkSOTS98,35
PT Samator Indo Gas TbkAGII97,75
PT Barito Renewables Energy TbkBREN97,31
PT Dian Swastatika Sentosa TbkDSSA95,76
PT Lima Dua Lima Tiga TbkLUCY95,47
PT Abadi Lestari Indonesia TbkRLCO95,35

Berdasarkan catatan aktivitas perdagangan sesi pertama, volume transaksi mencapai 24,29 miliar saham dengan total nilai transaksi Rp 9,81 triliun. MSCI secara tegas menyatakan bahwa saham dalam kategori HSC akan dikeluarkan untuk memicu penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.

Artikel terkait

Rekomendasi