Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyentuh level terendah sejak periode pandemi Covid-19 setelah ditutup melemah 5,84 persen ke posisi Rp 6.050 pada Jumat (24/4/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 2,1 triliun dalam satu hari perdagangan.
Kondisi tersebut dilaporkan oleh Money sebagai dampak dari tekanan sentimen makro global, meskipun fundamental perusahaan dinilai tetap kokoh. Tren pelemahan serupa juga melanda emiten perbankan besar lainnya seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 2,81 persen dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang merosot 2,85 persen.
Analis Trimegah Sekuritas Jonathan Gunawan memberikan pandangan mengenai posisi sektor perbankan sebagai indikator utama ekonomi nasional yang sensitif terhadap perubahan stabilitas makro.
ÔÇ£Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA,ÔÇØ ujar Jonathan pada Minggu (26/4/2026).
Jonathan mengidentifikasi konflik Iran dengan Amerika Serikat serta Israel sebagai pemicu utama yang menekan ekspektasi pertumbuhan global. Ketegangan geopolitik tersebut membuat harga energi tetap tinggi sehingga membebani nilai tukar mata uang domestik.
ÔÇ£Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat,ÔÇØ tambahnya.
Faktor lain yang memperberat langkah pasar modal Indonesia adalah adanya perubahan outlook dari lembaga pemeringkat global serta proses tinjauan MSCI. Meski demikian, upaya menjaga loyalitas investor tetap dilakukan melalui kebijakan pembagian dividen interim yang dilakukan hingga tiga kali dalam setahun.
ÔÇ£Kalau kita lihat lebih dalam, fundamental BBCA saat ini masih solid,ÔÇØ katanya.
Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2026, BBCA berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun, atau mengalami pertumbuhan sebesar 4 persen secara tahunan. Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis menilai capaian tersebut masih berada dalam jalur yang tepat.
ÔÇ£Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM,ÔÇØ tulis Victor dan Naura dalam risetnya.
Kualitas aset emiten ini juga terpantau stabil berkat perbaikan di segmen wholesale yang menutupi perlambatan pada kredit konsumer. Segmen korporasi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan kredit yang tercatat berada di level 6 persen secara tahunan.
ÔÇ£Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga,ÔÇØ tulis riset tersebut.
Untuk tahun 2026, BBCA tetap memegang target pertumbuhan kredit pada kisaran 8 hingga 10 persen. BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 10.900 mengingat valuasi saat ini dianggap sudah cukup murah.
ÔÇ£Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas,ÔÇØ tulis riset tersebut.