Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menyentuh level Rp17.528 pada perdagangan Selasa (12/5/2026) sore yang memicu ancaman kenaikan harga perangkat elektronik di Indonesia mulai Juni mendatang. Dilansir dari Suara, kondisi ini berdampak langsung pada biaya produksi akibat lonjakan harga komponen impor.
Data pasar spot Bloomberg menunjukkan mata uang garuda ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia menetapkan nilai tukar pada angka Rp17.514 per dolar AS, mencatatkan rekor terendah baru dalam sejarah.
Pedagang laptop di Mall Ambasador Jakarta mulai merasakan dampak kenaikan harga komponen esensial seperti RAM dan SSD. Penjualan komputer tercatat telah mengalami penurunan sebesar 10 persen di tengah tren pelemahan nilai tukar ini.
Nauvan, seorang pedagang laptop, memprediksi kenaikan harga jual produk PC dan laptop secara signifikan akan terjadi pada awal Juni 2026. Strategi pemberian bonus dan paket promosi kini digencarkan untuk menjaga minat beli konsumen di platform luring maupun daring.
Sektor ponsel pintar juga terdampak dengan hilangnya perangkat kategori bawah dari pasaran. Ponsel yang sebelumnya dijual seharga Rp1,2 juta kini mengalami kenaikan harga menjadi minimal Rp1,6 juta per unit.
Staf toko seluler, Rika, menyatakan bahwa pihaknya kini lebih mengoptimalkan penjualan aksesoris untuk menjaga perputaran uang. Langkah ini diambil guna menyiasati penurunan angka penjualan unit ponsel yang terus merosot.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta ketidakpastian situasi geopolitik global. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh proyeksi data ekonomi domestik yang berada di bawah ekspektasi.
"Rupiah melemah merespons semakin redupnya harapan perdamaian antara AS dan Iran," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Tekanan terhadap mata uang juga muncul dari antisipasi pelaku pasar terhadap pengumuman MSCI. Selain itu, para investor sedang memantau rilis data inflasi Amerika Serikat serta rencana pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin China dan AS.
"Belum ada katalis positif bagi rupiah, namun penguatan bisa terjadi jika BI melakukan intervensi agresif. Proyeksi berada di rentang Rp17.450 hingga Rp17.600," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Pelemahan mata uang ini turut dialami oleh mayoritas negara di Asia, dengan won Korea Selatan mencatatkan koreksi terdalam sebesar 1,11 persen. Peso Filipina, rupee India, dan baht Thailand juga dilaporkan ditutup di zona merah pada periode perdagangan yang sama.