Rupiah Menguat ke Level Rp 17.475 Meski Tekanan Geopolitik Meningkat

Rupiah Menguat ke Level Rp 17.475 Meski Tekanan Geopolitik Meningkat
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat ke Level Rp 17.475 Meski Tekanan Geopolitik Meningkat.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 53 poin atau 0,30 persen ke level Rp 17.475 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Dilansir dari Money, apresiasi mata uang domestik ini terjadi di tengah rapuhnya kondisi pasar global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam tahap kritis. Situasi ini diperparah dengan penolakan Iran terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.

ÔÇ£Konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global utama, yang memicu kekhawatiran akan inflasi yang berkelanjutan akibat kenaikan harga energi dan mempersulit prospek suku bunga,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Kekhawatiran pasar semakin nyata setelah data inflasi AS pada April 2026 menunjukkan kenaikan harga konsumen sebesar 0,6 persen. Secara tahunan, indeks harga konsumen (CPI) mencapai 3,8 persen, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan tahun 2023 dan melampaui ekspektasi pelaku pasar.

ÔÇ£Pasar kini menantikan data indeks harga produsen AS yang akan dirilis Rabu nanti untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve,ÔÇØ kata Ibrahim Assuaibi.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti akumulasi utang pemerintah Indonesia yang tercatat mencapai Rp 9.920,42 triliun hingga akhir Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar Rp 282,52 triliun jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2025 yang berada di angka Rp 9.637,90 triliun.

ÔÇ£Utang Singapura berada di kisaran 180 persen terhadap PDB, sementara Malaysia di atas 60 persen terhadap PDB,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi mengutip pernyataan pemerintah.

Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) mencatat bahwa 87,22 persen dari total utang tersebut bersumber dari Surat Berharga Negara (SBN). Meski secara nominal meningkat, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih terjaga pada level 40,75 persen, atau di bawah batas aman undang-undang sebesar 60 persen.

Guna meredam volatilitas, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi aktif di pasar global, mulai dari New York hingga Asia melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF). Otoritas moneter tersebut juga dijadwalkan melakukan intervensi agresif di pasar domestik pada 18 Mei 2026 mendatang melalui pasar spot dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Artikel terkait

Rekomendasi