Nilai tukar rupiah mengalami penurunan drastis terhadap dolar Amerika Serikat hingga melewati level Rp 17.700 di pasar spot pada Selasa siang, 19 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh kecemasan pelaku pasar menanti kebijakan bank sentral serta tekanan ekonomi global.
Berdasarkan laporan pergerakan angka di pasar spot yang dilansir dari Investor Daily, mata uang Indonesia merosot sebesar 72 poin atau sekitar 0,41 persen ke posisi Rp 17.740 per dolar AS pada pukul 12.25 WIB. Pada saat yang sama, penguatan tipis sebesar 0,06 persen terjadi pada indeks dolar AS yang bergerak naik ke posisi 99.129.
Kondisi ini melanjutkan tren negatif sejak pembukaan perdagangan pagi hari, di mana rupiah langsung terkoreksi 17 poin ke level Rp 17.685 per dolar AS. Pergerakan tersebut beriringan dengan indeks dolar AS yang menguat 0,14 persen ke posisi 99.052.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova memproyeksikan pergerakan nilai tukar mata uang domestik akan tertahan pada kisaran Rp 17.670 hingga Rp 17.760 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, pelaku pasar di dalam negeri saat ini cenderung bersikap menunggu pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
"Ruang fiskal terus menyempit akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas US$ 100 per barel. Sementara dari tren global, kenaikan inflasi dan yield obligasi pemerintah AS masih terus berlanjut sehingga spread yield obligasi pemerintah Indonesia semakin tipis dan tidak menarik lagi bagi pelaku pasar asing," papar Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara.
Tekanan terhadap mata uang nasional juga diperparah oleh situasi minimnya aktivitas perdagangan di pasar domestik akibat momentum libur panjang. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menilai akumulasi sentimen negatif ini berpotensi menyeret nilai tukar rupiah ke rekor terendah yang baru dalam waktu dekat.
"Dalam perdagangan di bulan Mei ini, kemungkinan besar (rupiah) level Rp 18.000 akan tembus," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.