Rupiah Tembus Level 17.300 per Dollar AS pada April 2026

Rupiah Tembus Level 17.300 per Dollar AS pada April 2026
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Level 17.300 per Dollar AS pada April 2026.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi signifikan hingga menembus level psikologis Rp17.300 per dollar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026). Data pasar menunjukkan mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.286, melemah 0,61 persen dibandingkan hari sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Money.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai fluktuasi ini tidak hanya dipicu oleh penguatan dollar AS secara global mengingat Indeks Dollar AS (DXY) terpantau stabil. Tekanan terhadap mata uang domestik lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi internal negara.

"Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.

Faktor domestik lainnya mencakup lonjakan harga minyak dunia yang melampaui 100 dollar AS per barel sehingga membebani ketahanan fiskal. Ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) dari luar negeri turut memperburuk persepsi pasar terhadap anggaran negara.

"Berapa harga dan kapan minyak Rusia tiba dan bisa amankan supply BBM di Indonesia, masih belum jelas," imbuh Liza Camelia Suryanata.

Liza juga menyoroti efektivitas suku bunga acuan Bank Indonesia yang dianggap belum memberikan dampak kuat terhadap stabilitas kurs. Kondisi ini diperumit dengan sentimen negatif dari lembaga pemeringkat internasional terhadap sektor perbankan nasional.

"Efektivitas alokasi dan kualitas investasi perlu dijaga agar dapat memberikan dampak nyata terhadap perekonomian, bukan sekadar akumulasi dana tanpa arah yang jelas," ungkap Liza Camelia Suryanata.

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa gejolak global tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan kurs. Pemerintah mengeklaim terus melakukan pemantauan ketat terhadap dinamika pasar tersebut.

ÔÇ£Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,ÔÇØ kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Pihak Bank Indonesia menyatakan bahwa tekanan terhadap nilai tukar juga dirasakan oleh negara-negara lain di kawasan Asia. Otoritas moneter mengonfirmasi telah melakukan intervensi di berbagai lini pasar keuangan untuk meredam volatilitas.

"Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.

Ekonom Global Market Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menambahkan bahwa tingginya permintaan valuta asing untuk pembayaran dividen dan aliran dana jangka pendek memperberat posisi rupiah. Kenaikan nilai impor energi akibat harga minyak global juga mulai menekan surplus neraca perdagangan.

"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.

Myrdal berpendapat bahwa situasi pelarian modal atau hot flow membuat klaim mengenai nilai rupiah yang terlalu rendah tidak lagi relevan dalam situasi pasar saat ini.

"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplus-nya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," tutup Myrdal Gunarto.

Artikel terkait

Rekomendasi