Nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp17.366 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi, 8 Mei 2026, menyusul penguatan kembali mata uang Amerika Serikat. Dilansir dari Suara, depresiasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah terjadi insiden baku tembak antara kapal Amerika Serikat dan Iran.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot merosot 33 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada pada level Rp17.333. Pergerakan negatif ini juga merambat ke kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang menempatkan rupiah di posisi Rp17.362 per dolar AS.
Kondisi lesu pada mata uang Garuda sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan mencatatkan koreksi terdalam sebesar 0,56 persen, diikuti oleh ringgit Malaysia yang turun 0,17 persen, peso Filipina 0,11 persen, yuan China 0,04 persen, dan yen Jepang 0,006 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rebound dolar AS merupakan dampak langsung dari kontak senjata di perairan internasional tersebut. Menurutnya, meskipun rupiah berkonsolidasi dengan potensi koreksi, tekanan terhadap mata uang domestik ini diprediksi masih dalam batas yang terkendali.
"Rupiah akan berkonsolidasi dengan potensi melemah terhadap dolar AS yang rebound menyusul insiden saling baku tembak antara kapal AS dan Iran. Walau demikian perlemahan diperkirakan terbatas," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Lukman menambahkan bahwa fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada pernyataan Donald Trump mengenai status gencatan senjata yang diklaim masih berlaku. Di sisi lain, para investor cenderung mengambil sikap menunggu dan memperhatikan langkah balasan Iran terhadap proposal kesepakatan damai dari pihak AS.
"Dari data ekonomi, investor juga menantikan data Cadangan Devisa Indonesia siang ini dan data tenaga kerja AS NFP malam ini. Range 17300-17400," tandas Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Selain faktor geopolitik, rilis data makroekonomi domestik dan global menjadi variabel penting yang dipantau pasar pada penutupan pekan ini. Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya seperti baht Thailand dan dolar Singapura justru terpantau menguat tipis terhadap dolar AS di tengah fluktuasi pasar pagi ini.