Nilai tukar rupiah dibuka melemah sebesar 0,03 persen ke level Rp16.910 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (6/3/2026) pagi pukul 09.14 WIB akibat meningkatnya konflik antara AS dan Iran. Penurunan mata uang garuda ini dilansir dari Investortrust.
Pelemahan ini selaras dengan tren negatif pada mata uang Asia lainnya. Dilansir dari Investortrust, dolar Hongkong mengalami penurunan sebesar 0,03 persen, ringgit Malaysia melemah 0,13 persen, dan peso Filipina terkoreksi hingga di bawah 0,40 persen.
Sebaliknya, beberapa mata uang regional justru berhasil menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang tercatat naik 0,07 persen, yuan China menguat 0,11 persen, rupee India bertambah 0,59 persen, dan dolar Singapura menguat sebesar 0,15 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyebut indeks dolar AS atau DXY sempat naik ke 99,1 pada Kamis (5/3/2026). Posisi tersebut menjadi level tertinggi yang dicapai sejak pertengahan Januari lalu.
Lonjakan indeks dolar terjadi karena eskalasi konflik antara AS dan Iran mendorong tingginya permintaan terhadap aset aman atau safe haven. Ketegangan kawasan tersebut memicu kenaikan harga minyak dan gas alam serta memunculkan kembali kekhawatiran terkait inflasi.
Kondisi ini juga mengakibatkan pelaku pasar menurunkan proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi hanya satu kali pada tahun ini, dari perkiraan awal pekan sebanyak dua kali. Selain itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 4,04 bps ke level 4,14 persen pada Kamis lalu.
Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump kini sedang merumuskan langkah respons terhadap lonjakan harga minyak dan bensin. Rencana yang disiapkan mencakup pemberian jaminan asuransi serta pengawalan militer angkatan laut untuk kapal yang melewati Selat Hormuz.
Langkah pengawalan tersebut ditujukan guna mengamankan lalu lintas kapal tanker di jalur vital pengiriman minyak dunia. Pejabat berwenang juga mengkaji opsi pelepasan cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve bersama negara lain, walau keputusan final belum ditetapkan.