Rupiah Melemah ke Level Rp 17667 per Dolar AS

Rupiah Melemah ke Level Rp 17667 per Dolar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Level Rp 17667 per Dolar AS.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah sebesar 13,50 poin atau 0,08 persen ke level Rp 17.667 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Penurunan mata uang garuda ini dipicu oleh rencana pengetatan kebijakan ekspor sejumlah komoditas strategis nasional.

Sebagaimana dilansir dari Money, penurunan nilai tukar rupiah ini terjadi akibat kecenderungan investor yang menghindari aset berisiko. Sikap pelaku pasar tersebut muncul setelah Presiden Prabowo Subianto memperketat aturan ekspor komoditas utama seperti minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy dengan mewajibkan pengiriman lewat satu eksportir Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan pengetatan ekspor tersebut menjadi perhatian utama para investor di pasar keuangan.

ÔÇ£Investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batubara, dan ferroalloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Pasar saat ini juga bersikap hati-hati menjelang rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I 2026 pada Jumat mendatang. Sikap tunggu dan lihat ini merupakan dampak dari catatan defisit transaksi berjalan pada kuartal IV 2025 akibat pelebaran kesenjangan harga minyak.

Di sisi lain, Ibrahim Assuaibi memandang keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebagai langkah antisipatif yang matang untuk menjaga stabilitas mata uang dari tekanan eksternal.

ÔÇ£BI tentu berkepentingan untuk menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah. Meskipun langkah ini akan menimbulkan beban tambahan pada biaya pinjaman, keputusan ini diharapkan dapat melindungi rupiah dari proses pelemahan yang lebih dalam,ÔÇØ papar Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Langkah penyesuaian suku bunga tersebut juga dipandang sebagai instrumen untuk mengendalikan permintaan domestik, menahan arus keluar modal asing, serta memulihkan kepercayaan pasar atas stabilitas ekonomi domestik.

ÔÇ£With menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia ingin menyatakan bahwa posisi rupiah masih akan dijaga, ekspektasi inflasi tidak akan dibiarkan liar, dan otoritas moneter belum kehilangan kendali,ÔÇØ beber Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Kendati demikian, kebijakan peningkatan suku bunga ini tetap membawa risiko tersendiri bagi perekonomian dalam negeri, terutama terkait potensi pembengkakan biaya dana dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

ÔÇ£Mungkin benar bahwa dengan menaikkan suku bunga acuan akan dapat menahan proses pelemahan rupiah, tetapi pada saat yang sama sesungguhnya juga berisiko dapat mempermahal dana, menekan kredit, mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga,ÔÇØ lanjut Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Tekanan terhadap rupiah turut diperparah oleh sentimen eksternal, khususnya perkembangan konflik di Iran yang meningkatkan ketidakpastian global. Presiden AS Donald Trump menyatakan perang Iran berada di tahap akhir, namun ia memperingatkan adanya potensi aksi militer yang lebih besar jika kesepakatan gagal dicapai.

Situasi tersebut membuat Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup dan memicu lonjakan harga minyak dunia, ditambah adanya langkah Iran memperkuat kendali di jalur logistik strategis itu.

ÔÇ£Pada hari Rabu, Iran mengumumkan ÔÇÿOtoritas Selat Teluk PersiaÔÇÖ yang baru, dengan saying akan ada ÔÇÿzona maritim terkontrolÔÇÖ di Selat Hormuz,ÔÇØ kata Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran merupakan respons atas serangan AS dan Israel yang memulai perang pada 28 Februari lalu. Meskipun sebagian besar pertempuran berhenti pasca-gencatan senjata April, pembatasan lalu lintas maritim dan blokade garis pantai oleh AS tetap mengganggu pasokan energi Timur Tengah.

Kondisi ini memaksa sejumlah negara menguras cadangan minyak komersial dan strategis mereka dalam waktu singkat.

ÔÇ£Kehilangan pasokan dari wilayah Timur Tengah yang penting karena perang telah memaksa negara-negara untuk menarik persediaan komersial dan strategis mereka dengan cepat, menimbulkan kekhawatiran tentang penipisan persediaan tersebut,ÔÇØ ucap Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Faktor global lain yang menekan rupiah adalah rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) April pada Rabu waktu AS. Mayoritas pejabat Federal Reserve (The Fed) mulai mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan jika inflasi global akibat konflik Iran dan lonjakan harga energi tetap bertahan di atas target 2 persen, meskipun pada rapat April lalu suku bunga acuan masih dipertahankan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi