Rupiah Melemah ke Rp 17.346 Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia

Rupiah Melemah ke Rp 17.346 Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.346 Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia.

Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami depresiasi sebesar 0,12 persen ke level Rp 17.346 per dollar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 30 April 2026. Pelemahan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta ketegangan geopolitik global di Timur Tengah.

Pergerakan mata uang Garuda diproyeksikan masih akan fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan Senin pekan depan. Sebagaimana dilansir dari Money, nilai tukar diperkirakan bergerak pada rentang Rp 17.350 hingga Rp 17.400 per dollar AS akibat tekanan eksternal yang masif.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah Brent yang menembus 122 dollar AS per barel membebani devisa impor Indonesia. Kebutuhan impor minyak nasional mencapai 1,5 juta barel per hari, yang berdampak langsung pada ketahanan fiskal negara.

"Kenaikan ini membuat kebutuhan dollar AS untuk pembelian minyak mentah sebesar 1,5 juta barrel per hari semakin tinggi. Tingginya harga minyak diproyeksikan dapat menambah tekanan neraca transaksi berjalan dan menggerus ketahanan fiskal," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN 2026 antara Rp 10 triliun hingga Rp 13 triliun. Selain itu, kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing turut memicu potensi arus keluar modal mencapai Rp 15 triliun.

Bank Indonesia terus melakukan intervensi komprehensif melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasar dan mengomunikasikan kebijakan agar pelemahan tetap terkendali.

Kenaikan suku bunga acuan tetap menjadi opsi terakhir apabila inflasi impor meningkat tajam dan instrumen pasar saat ini tidak lagi efektif. Ketidakpastian makin diperparah oleh laporan mengenai rencana blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran yang mengancam pasokan minyak global melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyoroti tantangan terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat di tengah tekanan politik domestik. Situasi diplomasi antara AS dan Iran pun dilaporkan masih menemui jalan buntu terkait aktivitas nuklir meskipun gencatan senjata diperpanjang.

Artikel terkait

Rekomendasi