Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi signifikan hingga melampaui level Rp 17.300 per dollar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi. Kondisi ini dipicu oleh tekanan gejolak global yang terus berlanjut dan memengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot yang dilansir dari Money, mata uang Garuda menyentuh angka Rp 17.310 per dollar AS pada pukul 09.35 WIB. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,74 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.181 per dollar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa faktor eksternal menjadi penyebab utama koreksi nilai tukar ini. Pemerintah menyatakan akan terus melakukan pemantauan ketat serta menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna merespons dinamika pasar tersebut.
"Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja," kata Airlangga saat ditemui di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Airlangga juga menyoroti mengenai proyeksi makro dalam rencana keuangan negara tahun mendatang. Koordinasi lintas sektor diperkuat mengingat fluktuasi saat ini sudah melampaui batas yang ditetapkan sebelumnya.
"Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja," kata Airlangga.
Pemerintah mencatat bahwa asumsi nilai tukar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 sebenarnya dipatok pada angka Rp 16.500 per dollar AS. Otoritas moneter pun turut memberikan pandangan mengenai posisi rupiah yang terdampak sentimen regional.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyebutkan bahwa tekanan yang dialami rupiah selaras dengan tren pelemahan mata uang di kawasan Asia. Ketidakpastian global saat ini secara kolektif menekan nilai tukar banyak negara berkembang.
"Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen," ujar Destry Damayanti dalam keterangan tertulis.
Bank Indonesia merespons situasi ini dengan meningkatkan intensitas intervensi di berbagai lini pasar keuangan. Langkah stabilisasi mencakup operasi di pasar non deliverable forward (NDF) luar negeri, transaksi spot, hingga domestic non deliverable forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
Selain intervensi langsung, bank sentral melakukan penguatan struktur suku bunga instrumen moneter berbasis pasar. Strategi ini diambil untuk mempertahankan daya tarik aset domestik bagi investor asing di tengah tekanan ekonomi global.
Data pasar menunjukkan rupiah menjadi mata uang dengan penurunan terdalam di Asia pada pagi hari tersebut, diikuti oleh peso Filipina yang turun 0,57 persen. Sebaliknya, dollar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang kawasan yang mencatat penguatan tipis sebesar 0,02 persen.