Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (18/5/2026) pagi seiring dengan berlanjutnya tren penguatan mata uang asing tersebut.
Mata uang domestik dibuka pada level Rp 17.628 per dolar AS, menunjukkan penurunan sebesar 0,18 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Jumat (15/5/2026) yang berada di level Rp 17.597 per dolar AS.
Koreksi mata uang terus berjalan hingga pukul 10.45 WIB, di mana rupiah semakin merosot ke level Rp 17.672 per dolar AS atau mencatat pelemahan harian sebesar 0,43 persen, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa pergerakan nilai tukar ini tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi oleh pernyataan pemerintah yang memengaruhi persepsi stabilitas pasar domestik.
Komentar Presiden Prabowo Subianto yang menganggap penurunan nilai rupiah tidak berdampak signifikan bagi masyarakat perdesaan dinilai berpotensi memunculkan sentimen negatif di kalangan pelaku pasar.
"Ya, rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo tersebut juga berakibat fatal terhadap pelemahan mata uang rupiah," ujar Ibrahim, Senin (18/5/2026).
Menurut analisisnya, situasi ini berisiko meningkatkan beban biaya impor nasional, khususnya pada komoditas energi seperti minyak mentah yang angka impornya masih mencapai kisaran 1,5 juta barel per hari.
Tekanan terhadap mata uang lokal juga berpotensi semakin besar jika masyarakat memutuskan untuk mengalihkan simpanan aset mereka dari rupiah ke bentuk valuta asing akibat fluktuasi ini.
Oleh karena itu, penanganan krisis yang konkret dan penyusunan strategi alternatif seperti pemanfaatan B50 dinilai perlu segera disampaikan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
"Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan ya tentang bagaimana tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping dari bahan bakar fosil ya, kemudian bagaimana cara melakukan menangani krisis agar rupiah ini kembali mengalami penguatan," katanya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat di berbagai daerah saat ini sudah semakin melek informasi ekonomi dan instrumen investasi berkat kemajuan teknologi, sehingga kehati-hatian dalam komunikasi publik oleh pemerintah menjadi sangat krusial.