Rupiah Melemah ke Rp17.255 Akibat Ketidakpastian Konflik Timur Tengah

Rupiah Melemah ke Rp17.255 Akibat Ketidakpastian Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp17.255 Akibat Ketidakpastian Konflik Timur Tengah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami depresiasi pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026) menyusul meningkatnya ketidakpastian perdamaian di kawasan Timur Tengah. Mata uang Indonesia tercatat melemah 74 poin atau sekitar 0,43 persen ke posisi Rp17.255 per dolar AS.

Kondisi lesunya nilai tukar ini sejalan dengan tren yang menimpa mayoritas mata uang di Asia, sebagaimana dilansir dari Finansial berdasarkan data analisis Doo Financial Futures. Sejumlah mata uang regional seperti peso Filipina dan rupee India masing-masing menyusut 0,27 persen dan 0,30 persen.

Performa Mata Uang Kawasan Asia
Mata UangPerubahan (%)
Peso Filipina-0,27%
Rupee India-0,30%
Ringgit Malaysia-0,09%
Baht Thailand-0,08%
Dolar Singapura-0,02%
Dolar Taiwan-0,02%

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa tekanan yang menimpa rupiah sangat dipengaruhi oleh kenaikan ketidakpastian global. Hal ini berdampak secara merata pada pelemahan mata uang di tingkat regional.

"Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54%," ungkap Destry, melalui keterangan resmi Departemen Komunikasi BI.

Otoritas moneter merespons situasi ini dengan meningkatkan intensitas intervensi di pasar offshore, pasar spot, hingga pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Upaya tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

"Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," tegas Destry.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah saat ini terus memantau dinamika pasar uang global. Ia menilai gejolak yang terjadi saat ini merupakan dampak langsung dari sentimen negatif internasional.

"Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak. Kan itu lihat gejolak global juga, jadi ya kita monitor saja," ujar Airlangga saat ditemui di Kantor BKPM, Jakarta.

Pemerintah menyatakan tidak akan bersikap reaktif terhadap fluktuasi harian nilai tukar dan memberikan mandat penuh kepada Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.

"Kita monitor saja, dan itu BI tugasnya menjaga [stabilitas]," tutup Airlangga.

Artikel terkait

Rekomendasi