Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatatkan rekor penutupan terburuk sepanjang masa pada level Rp 17.719 per dolar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), menyusul penguatan indeks dolar akibat dinamika geopolitik global serta pergantian kepemimpinan Bank Sentral AS.
Pelemahan mata uang garuda ini dilansir dari Investasi, yang menyebutkan adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa penguatan indeks dolar AS dipicu oleh penundaan rencana serangan terhadap Iran oleh Presiden AS Donald Trump demi membuka ruang negosiasi nuklir.
"Pasar melihat masih ada peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran, meski ketegangan geopolitik tetap tinggi," ujar Ibrahim pada Selasa (19/5/2026).
Kondisi di Timur Tengah tersebut, menurut Ibrahim, meningkatkan kecemasan terhadap jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz sehingga investor beralih ke aset safe haven, di samping pasar yang memantau penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed baru menggantikan Jerome Powell.
Dampak domestik dari depresiasi rupiah ini mulai menekan harga pangan nasional karena tingginya ketergantungan terhadap impor komoditas seperti gandum, kedelai, bawang putih, gula, dan daging sapi yang memicu risiko imported inflation pada semester II-2026.
"Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa terasa dalam hitungan minggu karena industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku," kata Ibrahim.
Biaya impor bahan pangan langsung melonjak akibat penguatan dolar AS tersebut.
"Untuk perdagangan Rabu (20/5/2026), rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif, tetapi cenderung melemah di kisaran Rp 17.700-Rp 17.750 per dolar AS," kata Ibrahim.