Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyoroti dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang memicu kenaikan biaya produksi pada industri sawit nasional di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Kondisi ini terjadi karena sejumlah komponen utama seperti pupuk dan suku cadang pabrik masih bergantung pada komoditas impor, sehingga kenaikan harga domestik tidak terelakkan meski pendapatan ekspor berbasis mata uang asing. Dilansir dari Industri, kenaikan harga bahan baku ini menjadi tantangan serius bagi para produsen.
Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menjelaskan bahwa fluktuasi mata uang ini memberikan dampak langsung pada operasional perusahaan di dalam negeri.
"Transaksi ekspor itu menggunakan mata uang USD, jadi pelemahan rupiah pengaruhnya di dalam negeri," ujar Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.
Eddy menambahkan bahwa kenaikan harga pupuk di pasar saat ini telah mencapai angka 30 persen, yang diikuti oleh naiknya biaya komponen suku cadang untuk mesin pengolahan.
Sektor ekspor juga disebut belum sepenuhnya pulih lantaran masih terikat oleh regulasi pemerintah seperti domestic market obligation (DMO), Persetujuan Ekspor (PE), dan bea keluar.
"Saat ini justru ekspor menurun akibat perang, cost insurance and freight naik sampai 30%, ini menyebabkan permintaan menurun," katanya Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.
Situasi logistik global yang terganggu akibat konflik geopolitik menambah beban industri dengan melonjaknya biaya asuransi dan pengapalan yang menekan volume permintaan luar negeri.
Terkait kapasitas pengolahan, Gapki menegaskan belum ada rencana untuk melakukan ekspansi pabrik secara besar-besaran karena keterbatasan pasokan bahan baku di lapangan.
"Kapasitas produksi tidak semudah itu dinaikkan, sebab bahan bakunya darimana? Kapasitas pabrik yang terpasang saat ini sudah menyesuaikan dengan ketersediaan bahan baku yang ada," jelas Eddy Martono, Ketua Umum Gapki.
Meskipun menghadapi tantangan biaya, data produksi nasional menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025 dengan pertumbuhan volume yang signifikan dibanding tahun sebelumnya.
| Indikator | Volume 2024 | Volume 2025 | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Produksi CPO | 48,16 Juta Ton | 51,66 Juta Ton | 7,26% |
| Total Ekspor | 29,54 Juta Ton | 32,34 Juta Ton | 9,51% |
| Ekspor Minyak Sawit Olahan | 20,45 Juta Ton | 22,73 Juta Ton | 11,15% |
Kenaikan volume ekspor tersebut terutama didorong oleh komoditas minyak sawit olahan yang mencatatkan angka 22,73 juta ton, naik dari posisi tahun 2024 sebesar 20,45 juta ton.