Seorang warga di Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, resmi mendapatkan persetujuan dari pihak manajemen perusahaan otobus untuk menggunakan desain fasad rumah yang menyerupai armada bus double decker. Perizinan ini diberikan pada Senin (27/4/2026) setelah hunian unik tersebut viral di media sosial.
Supardi, pemilik rumah di Dukuh Tandan, Desa Kopen tersebut, mengaku lega setelah pihak manajer PO Agra Mas mendatangi kediamannya secara langsung. Dilansir dari Otomotif, penyematan atribut merek pada eksterior bangunan tersebut memang memerlukan persetujuan resmi dari pemegang hak merek terkait.
"Saya sudah lega, dari pihak manajer Agra Mas sudah ke sini, sudah minta izin dan sudah disetujui. Cuma saya minta izin itu nantinya dibuat tertulis," ucap Supardi.
Pria yang akrab disapa Bagong ini merencanakan tahap pengecatan lanjutan agar tampilan rumahnya semakin identik dengan model Scania K410. Keinginan membangun hunian dengan arsitektur kendaraan ini bermula dari pengalaman pribadi Supardi sebagai penumpang setia transportasi umum tersebut.
"Sejak awal saya memang pelanggan Agra Mas. Pulang-pergi ke Jakarta selalu pakai armada Agra Mas, dari dulu sampai sekarang. Dari situ saya terinspirasi untuk membuat rumah berbentuk bus, karena saya ingin tampil beda dari yang lain," ucap Supardi.
Pembangunan rumah di atas lahan seluas 90 meter persegi tersebut sempat menuai tanda tanya dari lingkungan sekitar. Proses pengerjaan fondasi yang tidak merata menyesuaikan bentuk rangka bus membuat para tetangga dan kerabat merasa heran pada awal konstruksi.
"Dari awal dari geser tanah (banyak warga yang heran), kalau tanah kan rata-rata rumah itu kan digeser rata ya kan mas. Rata dulu baru kasih fondasi," kata Supardi.
Ketidakjelasan konsep pada tahap awal pembangunan menjadi pemicu munculnya keraguan dari warga setempat. Namun, seiring berdirinya struktur bangunan yang menyerupai bus besar dan bus mini, masyarakat mulai memberikan dukungan terhadap kreativitas tersebut.
"Nah Kalau ini kan dulu geser tanah itu ada yang naik, ada yang turun (tidak diratakan semua). Jadi dilihat itu enggak jelas gitu loh ya. Makanya tetangga, bahkan saudara tanya, itu mau bikin apa. Semua warga pada heran, maksudnya mau bikin apa, kok gesernya (bangun pondasinya) kayak begitu," ucap Supardi.
Saat ini, progres pembangunan dua bangunan utama berbentuk bus tersebut baru menyentuh angka 60 persen dengan total biaya yang telah dikeluarkan mencapai Rp 125 juta. Pengerjaan fisik untuk sementara waktu terhenti karena pemilik masih mengumpulkan sisa anggaran yang dibutuhkan untuk penyelesaian akhir.