Program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 kembali hadir sebagai wadah penguatan manajemen artistik dan profesionalisme pelaku seni yang dimulai sejak 1 Mei 2026 di Kupang. Dilansir dari Detikcom, inisiatif ini bertujuan membangun ekosistem seni pertunjukan yang lebih kokoh bagi komunitas seni di berbagai wilayah Indonesia.
Rangkaian kegiatan telah dimulai di Taman Budaya Gerson Pyok, Kupang, dengan menghadirkan Rama Soeprapto sebagai narasumber. Program ini dijadwalkan berlanjut ke Banjarmasin pada 7 Mei yang melibatkan Eko Supriyanto dan Chriskevin Adefrid, kemudian ke Tasikmalaya pada 11 Mei, dan berakhir di Lampung pada 13 Mei 2026.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menyatakan komitmen jangka panjang lembaganya dalam memfasilitasi lahirnya karya-karya seni berkualitas melalui pendampingan manajerial yang terstruktur.
"Kami punya komitmen jangka panjang dalam membangun ekosistem seni pertunjukan di Indonesia. Lewat program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026, kami ingin menciptakan ruang yang tidak hanya mendorong lahirnya karya-karya berkualitas, tetapi juga memperkuat fondasi para pelaku seni," kata Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Penjelasan mengenai dukungan tersebut mencakup pendampingan dari tahap ide kreatif hingga cara mempertemukan karya dengan publik secara luas.
"Mulai dari proses kreatif, manajerial, hingga bagaimana karya tersebut dapat bertemu dengan publik secara lebih luas dan terstruktur," sambung Renitasari Adrian.
Pendaftaran bagi komunitas seni telah dibuka mulai 13 April hingga 31 Mei 2026 dengan syarat peserta merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) berusia 18-35 tahun. Peserta diwajibkan mengirimkan proposal yang mencakup profil tim, konsep kreatif, portofolio, serta rencana anggaran produksi dengan nilai maksimal Rp35 juta.
Anggota dewan juri, Keni Soeriaatmadja, menilai platform ini sangat krusial dalam memberikan ruang tumbuh bagi para seniman muda agar dapat mencapai level internasional.
"Di sini, ide dan praktik mereka punya kesempatan untuk berkembang dan dikenal lebih luas, bahkan hingga ke level internasional. Yang menarik, program ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses, bagaimana ruang belajar yang kritis, dialog yang terbuka, dan dokumentasi bisa berjalan beriringan," ujar Keni Soeriaatmadja.
Sebanyak 13 proposal terbaik yang terpilih nantinya akan mendapatkan fasilitas dana produksi serta program mentoring dan workshop intensif bersama para praktisi seni profesional selama periode Agustus hingga Oktober 2026.