RS Premier Bintaro Soroti Peningkatan Kasus Obesitas Akibat Minim Aktivitas Fisik

RS Premier Bintaro Soroti Peningkatan Kasus Obesitas Akibat Minim Aktivitas Fisik
Foto: Ilustrasi RS Premier Bintaro Soroti Peningkatan Kasus Obesitas Akibat Minim Aktivitas Fisik.

Kasus obesitas di Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan yang dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat modern yang semakin minim aktivitas fisik. Fenomena ini mendapat perhatian dari Rumah Sakit Premier Bintaro yang menekankan pentingnya edukasi mengenai penanganan obesitas, termasuk melalui prosedur bedah bariatrik dan metabolik, seperti dikutip dari Investor Daily.

CEO Rumah Sakit Premier Bintaro, dr. Relia Sari, menjelaskan bahwa obesitas bukan lagi sekadar permasalahan penampilan atau kelompok tertentu, melainkan gangguan kesehatan meluas karena minimnya pergerakan fisik akibat ketergantungan pada gawai.

"Obesitas sekarang tidak hanya dialami kelompok tertentu, tetapi sudah menjadi masalah yang makin luas. Perubahan gaya hidup membuat masyarakat makin minim bergerak karena banyak aktivitas kini bisa dilakukan hanya melalui gadget," ujar dr. Relia Sari dalam sebuah diskusi medis.

Meskipun penanganan awal umumnya dilakukan lewat program diet, olahraga, dan obat-obatan, tindakan bedah bariatrik dapat menjadi opsi medis berikutnya dalam kondisi tertentu.

Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan Rumah Sakit Premier Bintaro, Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, Subsp. BD(K), M.Kes, menegaskan bahwa operasi ini bertujuan utama sebagai terapi medis mengatasi obesitas dan penyakit penyertanya, bukan sekadar estetik.

"Bariatrik itu sebenarnya segala usaha untuk menurunkan berat badan. Bisa lewat diet, olahraga, obat-obatan, balon lambung, sampai pembedahan. Tetapi operasi adalah langkah terakhir," kata dr. Errawan.

Prosedur bedah direkomendasikan berdasarkan nilai Indeks Massa Tubuh (BMI) pasien. Seseorang dengan BMI di atas 35 memenuhi syarat operasi, sementara pemilik BMI 30 hingga 34,9 dapat dipertimbangkan jika memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi, gangguan tidur, atau penyakit jantung.

Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah mengategorikan obesitas sebagai penyakit karena dampaknya yang meluas pada sistem tubuh.

"Obesity is a disease. Orang gemuk sering mengalami diabetes, hipertensi, nyeri lutut, gangguan tidur, batu empedu, gangguan hormonal, sampai gangguan kesuburan," ucap dr. Errawan.

Secara medis, bedah bariatrik bekerja dengan cara mengecilkan kapasitas tampung lambung serta menekan hormon ghrelin yang mengontrol rasa lapar. Melalui metode sleeve gastrectomy, pemotongan lambung dilakukan hingga mencapai 70 persen kapasitasnya.

"Kalau sebelumnya makan satu porsi besar, setelah operasi mungkin hanya kuat tiga sampai empat sendok sekali makan. Tetapi frekuensinya lebih sering," tutur dr. Errawan.

Beimen opsi teknik bedah bariatrik lainnya meliputi Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB), Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS), serta Sleeve Gastrectomy with Proximal Jejunal Bypass (PJB-S).

"Salah satu prosedur yang banyak dipilih adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) karena prosedurnya relatif sederhana, angka komplikasi rendah, serta memberikan penurunan berat badan yang cepat dengan masa rawat inap yang lebih singkat," kata dr. Errawan.

Operasi ini juga terbukti memperbaiki metabolisme tubuh pasien secara signifikan, bahkan mengurangi ketergantungan insulin pada penderita diabetes.

Meskipun efektivitasnya tinggi, keberhasilan jangka panjang bedah bariatrik sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam mengadopsi pola hidup sehat secara permanen.

Dr. Errawan mengimbau masyarakat untuk rutin berolahraga serta menghindari asupan gula berlebih, makanan siap saji, minuman berkarbonasi, alkohol, dan rokok.

"Kalau hanya makan sedikit tapi gizinya buruk juga tidak cukup. Harus tetap memperhatikan kualitas makanan dan olahraga," tutur dr. Errawan.

Pasien pascaoperasi diwajibkan mengonsumsi vitamin secara rutin, memperbanyak konsumsi air putih, mengikuti panduan nutrisi ahli gizi, dan melewati tahapan konsumsi makanan dari tekstur cair hingga padat secara bertahap.

"Pasien harus disiplin karena operasi ini mengubah lifestyle seumur hidup," kata dr. Errawan.

Jika komitmen gaya hidup sehat ini dilanggar, terdapat risiko berat badan kembali naik hingga mencapai kisaran 30 persen dari berat setelah operasi.

"Kalau pasien tidak disiplin, berat badan bisa naik lagi sekitar 30%. Karena itu dukungan keluarga penting sekali," ujar dr. Errawan.

Persiapan praoperasi juga melibatkan pemeriksaan komprehensif oleh tim dokter spesialis, termasuk dokter jantung, paru, penyakit dalam, anestesi, hingga psikolog untuk menjamin keamanan tindakan medis.

Saat ini, intervensi bedah bariatrik memanfaatkan teknologi laparoskopi minimal invasif dengan sayatan kecil berukuran 5 hingga 12 milimeter, sehingga mempercepat masa pemulihan pasien dalam tiga hingga empat hari.

Dr. Errawan menyayangkan prosedur bariatrik yang bernilai medis tinggi ini masih sering dikategorikan sebagai tindakan kosmetik, sehingga belum terakomodasi oleh asuransi kesehatan maupun BPJS.

"Padahal tujuan utamanya bukan kosmetik, tetapi menurunkan risiko penyakit komorbid dan memperbaiki kualitas hidup pasien," tutur dr. Errawan.

Artikel terkait

Rekomendasi