Sebanyak delapan emiten baru resmi bergabung dalam perhitungan Indeks Bisnis-27 untuk masa berlaku 4 Mei 2026 hingga 30 Oktober 2026. Langkah rotasi ini dilakukan guna memperkuat posisi indeks agar lebih defensif dalam menghadapi fluktuasi pasar global sepanjang tahun berjalan.
Dilansir dari Market, daftar entitas baru tersebut mencakup PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP). Selain itu, terdapat pula PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).
Research Analyst Henan Sekuritas James Widjaja menyatakan bahwa perubahan konstituen ini mendapatkan respon positif dari pasar. Berdasarkan analisis fundamental, sektor komoditas diprediksi akan menjadi pilar kekuatan utama bagi indeks tersebut.
"Untuk penopang indeks, kami melihat BRMS, DEWA, dan TAPG sebagai kandidat utama, seiring dengan kombinasi katalis pertumbuhan dan dukungan harga komoditas," ujarnya, Selasa (28/4/2026).
James menekankan bahwa BRMS memiliki keunggulan pada rencana peningkatan produksi emas serta eksplorasi tembaga. Sementara itu, DEWA diproyeksikan mampu memperbaiki margin melalui langkah efisiensi internalisasi armada dan ekspansi pada sektor mineral logam yang terafiliasi.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan energi nasional dan fenomena alam yang berdampak pada harga pangan. TAPG diprediksi akan menguat berkat naiknya harga minyak sawit mentah akibat program biodiesel B50 dan ancaman gangguan pasokan dari dampak fenomena El Nino.
Namun, ancaman geopolitik tetap membayangi kinerja sejumlah emiten, terutama yang bergantung pada energi dan bahan baku luar negeri. Sektor konsumer seperti CPIN dan ICBP berisiko mengalami pembengkakan biaya produksi akibat gangguan distribusi pupuk dunia yang dapat menekan margin keuntungan.
Sektor energi dan pengolahan mineral juga menghadapi tantangan serupa terkait ketersediaan bahan pendukung. MBMA berisiko terdampak kelangkaan sulfur, sedangkan PGAS harus menghadapi tingginya harga gas alam cair dunia di tengah keterbatasan penyesuaian harga jual ke pelanggan.
"Pelemahan rupiah juga berdampak berbeda antar emiten cenderung negatif bagi CPIN dan ICBP, namun menjadi tailwind bagi MBMA, BRMS, dan DEWA," terangnya.
Ketegangan di Timur Tengah dan depresiasi nilai tukar rupiah menjadi faktor eksternal utama yang terus dipantau oleh para pelaku pasar. Situasi ini menciptakan efek yang kontradiktif antara emiten yang berorientasi pada ekspor dengan mereka yang mengandalkan impor bahan baku.