Ketegangan masa lalu dalam internal tim Inter Milan akhirnya terungkap ke publik. Legenda hidup sepak bola Italia, Roberto Baggio, secara blak-blakan membongkar keretakan hubungannya dengan sang mantan pelatih, Marcello Lippi, saat keduanya masih bernaung di klub raksasa tersebut.
Dikutip dari Bola, kisah pergolakan batin di San Siro ini dipaparkan oleh Roberto Baggio menjelang fase akhir karier profesionalnya. Baggio menuangkan kisah tersebut melalui potongan lembaran otobiografi terbarunya yang bertajuk Luce nell'oscurita, yang memiliki arti Cahaya dalam Kegelapan.
Ketidakharmonisan di antara keduanya mencapai puncak ketika sang penyerang bernomor punggung 10 itu menolak instruksi kepelatihan. Baggio menilai perintah tersebut telah mencederai nilai sportivitas serta solidaritas antar-pemain di dalam ruang ganti Nerazzurri.
Sebelum dipertemukan kembali di kubu Inter Milan sepanjang periode 1998 hingga 2000, relasi kerja antara keduanya sebenarnya sudah terbangun lama. Mereka tercatat pernah berkolaborasi bersama saat membawa Juventus meraih kesuksesan pada musim kompetisi 1994-1995 silam.
Kebersamaan dua figur besar ini di Inter Milan justru berjalan penuh gejolak sejak bulan Maret di musim kedua mereka. Sang maestro lapangan tengah mengaku merasa tersudut ketika sang pelatih memintanya membocorkan informasi internal mengenai perilaku para pemain.
Lippi disebut meminta informasi mengenai nama-nama pemain yang berpotensi melakukan pembangkangan taktis terhadap skema kepelatihan.
ÔÇ£Marcello Lippi ingin berbicara dengan saya pada bulan Maret dan meminta saya untuk memberikan nama-nama pemain yang mungkin akan menentangnya di ruang ganti,ÔÇØ tulis Baggio dikutip dari Football Italia, Kamis (21/5/2026).
ÔÇ£I answered in my own way: 'Sir, I train as hard as I can, you judge whether I deserve to play or not, but don't ask anything else from me.'ÔÇØ
Penolakan tegas tersebut memicu kekesalan mendalam dari pihak kepelatihan Inter Milan. Berdasarkan pengakuan Baggio, suasana latihan rutin harian pun berubah menjadi penuh provokasi agresif di hadapan para anggota skuad lainnya.
ÔÇ£Because he was annoyed, Lippi tried to provoke me, to get a reaction out of me,ÔÇØ kata Roberto Baggio.
ÔÇ£One day he shouted at me arrogantly and aggressively: 'Phenomeno, tell me which teammates don't suit you'. I replied very calmly: 'Sir, tell my teammates what you asked me to do.'ÔÇØ
Diadili di Depan Umum dan Pembuktian di Lapangan
Hubungan interpersonal yang kian memburuk itu semakin diperparah oleh analogi kontroversial yang sempat dilontarkan sang penyerang di hadapan media massa. Baggio mengumpamakan kondisi taktis tim layaknya mobil mewah kelas atas yang salah kendali.
Akibat perumpamaan tersebut, ia harus menerima konsekuensi disiplin internal berupa teguran terbuka di tengah lapangan saat sesi latihan kembali digelar.
ÔÇ£After I joked to a journalist saying that Inter was like a Ferrari driven by a traffic warden, I was put on trial in public in front of my teammates when we returned to training,ÔÇØ ujar Baggio.
Kendati demikian, profesionalisme tinggi tetap ditunjukkan oleh peraih penghargaan Ballon d'Or tersebut di atas lapangan hijau saat membela timnya.
Ketika Inter Milan menghadapi laga krusial babak play-off penentu tiket lolos ke kompetisi elite Eropa melawan Parma di Verona, Baggio sukses membungkam keraguan lewat performa magis.
ÔÇ£But then Lippi was practically forced to play me in the play-off against Parma in Verona for Champions League qualification. I scored two goals to win the match.ÔÇØ
ÔÇ£I played for my team, out of respect for the shirt and the fans. I just did my job, with the same passion I've always had: To play football and entertain the supporters,ÔÇØ kata Baggio.