JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah deru mesin kendaraan yang saling bersahutan, banyak pengendara motor larut dalam suara dari earphone yang terpasang di balik helm.
Untuk sejumlah pemotor, earphone menjadi teman perjalanan yang menenangkan dan membantu mereka tak bosan selama perjalanan.
Namun, pada saat yang sama, benda kecil di telinga itu perlahan mengurangi kepekaan pengendara terhadap lingkungan sekitar.
Suara sirene, rem mendadak, hingga klakson kendaraan lain di jalan kerap terlambat disadari pemotor yang telinganya tertutup earphone.
Di antara rasa nyaman dan risiko kecelakaan, penggunaan earphone saat berkendara kini tak lagi sekadar kebiasaan, tetapi juga pelanggaran yang terus diperdebatkan.
Sebagian pemotor menyadari bahwa penggunaan earphone saat berkendara berbahaya dan melanggar aturan.
"Tahu sih bahaya dan melanggar lalu lintas tapi mau gimana, ya, daripada enggak pakai earphone malah kantuk di jalan, bahaya juga," ucap salah satu pengendara bernama Nada (28) ketika diwawancarai Kompas.com di Jakarta Timur, Jumat (8/5/2026).
Nada menilai, menggunakan earphone ketika berkendara juga bisa membuatnya lebih semangat ketika pergi bekerja.
Penyebab tetap memasang earphone saat berkendara
Psikolog Klinis Senior sekaligus Direktur Personal Growth dan Tim Ahli Pokja Keswa Kemenkes RI, Ratih Ibrahim, mengatakan rata-rata pengendara sudah tahu bahaya dari menggunakan earphone ketika di jalan.
"Menggunakan earphone adalah pilihan sadar yang ia lakukan. Dia memilih, jadi risiko-risiko ia sudah tahu," ungkap Ratih ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.
Menurut Ratih, tujuan orang menggunakan earphone di tengah keramaian adalah untuk ÔÇ£mengurung diriÔÇØ dan lebih fokus pada apa yang sedang dilakukan.
Artinya, pengendara berusaha mengurangi gangguan dari lingkungan sekitar dan hanya berfokus pada suara yang terdengar di telinga.
Ratih menilai, hampir semua kalangan menyukai berkendara sambil mendengarkan musik lewat earphone.
"Musik menenangkan, menstimulasi otak dan hati mereka, apalagi jika sesuai dengan kondisi perasaannya saat itu," sambung dia.
Dampak positif dan buruk
Musik yang didengarkan lewat earphone memang dapat meningkatkan fokus dan membuat pengendara merasa lebih waspada.
Namun, kondisi itu juga berisiko membuat pengendara kurang sadar terhadap situasi di sekitarnya, termasuk keberadaan kendaraan lain maupun suara sirene.
Hal tersebut terjadi karena perhatian pengendara terkunci pada suara dari earphone sehingga kewaspadaan terhadap lingkungan menurun.
Bahkan, pengendara bisa terlalu terhanyut dengan apa yang didengarkan hingga konsentrasinya terhadap kondisi jalan memudar.
Ratih menilai, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, baik bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lain.
Bahaya saat menerima telepon
Bukan hanya mendengarkan musik, Ratih juga mengingatkan penggunaan earphone akan sangat bahaya jika panggilan telepon masuk.
"Panggilan telepon itu mengusik fokus. Menginterupsi, bikin kaget," ucap Ratih.
Ratih menilai, saat seseorang fokus mendengarkan musik sambil berkendara, perhatian terhadap lingkungan sekitar bisa menurun.
Ketika panggilan telepon tiba-tiba masuk, fokus pengendara dapat buyar dan memicu kepanikan hingga kecelakaan.
Sebab, tidak semua orang mampu tetap tenang dan fokus ketika suara nada dering panggilan telepon mendadak terdengar keras di telinga saat berkendara.
Solusi dan penegakan aturan
Ratih mengatakan, salah satu solusi untuk mengubah kebiasaan masyarakat agar tidak lagi mendengarkan earphone ketika berkendara adalah dengan melakukan sosialisasi dan pemberian sanksi.
"Sosialisasi peraturan, tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh berikut sanksinya harus lebih gencar dilakukan," ucap dia.
Menurut Ratih, sanksi harus diterapkan secara tegas dan konsisten agar menimbulkan efek jera.
Ia juga menilai, pemberitaan tentang kecelakaan lalu lintas dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat.
Ratih mencontohkan, tayangan mengenai kecelakaan memiliki fungsi serupa dengan gambar peringatan pada bungkus rokok yang dinilai cukup efektif mengingatkan masyarakat akan bahaya.
"Daripada abai karena tidak pernah tahu akibat fatalnya," tegas dia.
Peran indra pendengaran
Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher RS Pondok Indah ÔÇô Bintaro Jaya, Hemastia Manuhara Harba'i, mengingatkan betapa pentingnya indra pendengaran dalam keselamatan berkendara.
"Indra pendengaran berperan penting untuk memastikan keselamatan berkendara. Indra pendengaran membantu pengendara untuk mengetahui arah bunyi, sehingga dapat segera merespons bahaya yang ada di sekitar kendaraan," kata Manuhara dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Jumat.
Menurut dia, penggunaan earphone dalam waktu lama saat berkendara berisiko menyebabkan paparan bising berlebihan dan mengganggu konsentrasi, terutama jika digunakan untuk menelepon.
Ketika earphone dipakai untuk menerima telepon di atas kendaraan, pengemudi cenderung lebih fokus pada percakapan dan mengabaikan kondisi sekitar.
Selain itu, suara dari earphone juga dapat memperlambat respons pengendara dalam situasi berbahaya.
Satu atau dua earphone sama bahaya
Manuhara juga menjelaskan, penggunaan satu atau dua earphone di telinga sama-sama berbahaya.
"Karena tetap ada pajanan bising yang berisiko mengganggu konsentrasi pengendara," tutur dia.
Ia menjelaskan, penggunaan earphone sebaiknya tidak melebihi 60 persen volume maksimal dengan durasi maksimal 60 menit.
Setelah digunakan selama 60 menit, telinga perlu diistirahatkan selama 60 menit.
Jika digunakan melebihi batas tersebut, earphone berpotensi merusak saraf pendengaran, menyebabkan infeksi telinga, hingga memicu jamur akibat kondisi lembap. Bila tidak ditangani, kondisi itu dapat merusak gendang telinga.
Paparan bising dari earphone dan sejenisnya juga dapat menyebabkan pusing karena telinga tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendengaran, tetapi juga pusat keseimbangan tubuh.
"Penggunaan headset berlebihan dalam jangka panjang, apalagi melebihi aturan yang diperbolehkan dapat memicu gangguan pendengaran lainnya seperti tinnitus," ucap Manuhara.
Sosialisasi langsung ke jalan
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Ojo Ruslani menegaskan, berbagai upaya sudah dilakukan polisi untuk menekan kebiasaan masyarakat menggunakan earphone ketika berkendara.
"Sosialisasi langsung ke jalan dengan cara memberikan imbauan langsung kepada pengguna jalan," ucap Ojo ketika dihubungi, Jumat.
Selain imbauan, polisi juga akan menegur secara persuasif dengan menjelaskan risiko penggunaan earphone ketika berkendara.
Tak hanya lisan, polisi juga berusaha melakukan sosialisasi dengan membagikan brosur berisi bahaya penggunaan earphone ketika berkendara.
Lalu, kampanye keselamatan berlalu lintas dan edukasi kepada kampus serta sekolah juga rutin dilakukan.
Alternatif
Ojo memahami bahwa penggunaan earphone ketika berkendara kerap kali menjadi kebutuhan sebagian orang, terutama pengemudi ojek online (ojol), karena untuk mendengarkan Google Maps.
Oleh karena itu, sebagai alternatifnya ia menyarankan agar alat komunikasi atau navigasi tetap tidak menutup kedua telinga.
"Atur navigasi sebelum jalan, tentukan rute dari awal dan hapalkan poin penting alamat yang dituju, seperti belok kanan atau belok kiri," kata Ojo.
Kemudian, para pengendara juga bisa mengganti earphone dengan intercom yang dipasang di helm, sehingga telinga tidak tertutup.
Alternatif selanjutnya adalah menggunakan speaker kendaraan atau audio terbuka, agar suara dari ponsel bisa terdengar tanpa bantuan earphone.