Pemilik mobil diesel sering kali tergoda berpindah ke Biosolar demi menghemat biaya operasional akibat tingginya harga Dexlite maupun Pertamina Dex. Namun, dilansir dari Suara, keputusan menurunkan spesifikasi bahan bakar ini membawa risiko teknis yang sangat serius bagi kendaraan.
Penggunaan bahan bakar subsidi yang tidak sesuai spesifikasi dapat mengancam komponen vital pada ruang bakar. Biaya perbaikan yang timbul akibat kerusakan ini sering kali jauh lebih besar dibandingkan selisih harga bahan bakar harian.
Mobil diesel generasi terbaru umumnya telah mengadopsi teknologi commonrail yang sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Seperti dikutip dari Astra Daihatsu, sistem ini memerlukan BBM berkualitas tinggi agar dapat bekerja secara optimal dalam jangka panjang.
Kadar sulfur pada Biosolar tercatat sangat tinggi, mencapai angka 2.500 ppm. Sebagai perbandingan, kandungan sulfur yang masif ini akan mempercepat proses penyumbatan pada lubang injektor yang ukurannya sangat kecil.
Jika lubang injektor tertutup kotoran, kesehatan komponen tersebut akan tergerogoti secara langsung. Hal ini memicu kerusakan permanen yang mengharuskan pemilik kendaraan melakukan penggantian suku cadang dengan harga yang tidak murah.
Penurunan Performa dan Efisiensi Mesin
Selain masalah pada komponen fisik, performa mesin dipastikan akan menurun drastis saat menggunakan Biosolar. Hal ini disebabkan oleh nilai cetane Biosolar yang hanya berada di angka 48, berbeda jauh dengan Pertamina Dex yang mencapai 51.
Perbedaan angka cetane ini berdampak langsung pada penurunan efisiensi pembakaran di dalam ruang mesin. Akibatnya, tarikan mobil akan terasa lebih berat dan tenaga yang dihasilkan mesin menjadi tidak maksimal.
Risiko Endapan dan Filter Solar Kotor
Masalah teknis akibat penggunaan Biosolar juga berdampak pada tangki penyimpanan bahan bakar. Penggunaan BBM ini rentan memicu penumpukan endapan kotoran, terutama jika kendaraan jarang digunakan dalam waktu lama.
Kondisi tersebut memaksa filter solar bekerja ekstra keras dan menjadi lebih cepat kotor dibandingkan saat menggunakan bahan bakar berkualitas. Pemilik mobil pun harus lebih sering mengeluarkan biaya untuk mengganti filter secara rutin.
"Kadar sulfur tinggi pada bahan bakar murah adalah musuh utama sistem commonrail," ujar pakar mesin otomotif memberikan peringatan tegas bagi para pengguna kendaraan diesel modern.