Retno Marsudi Tekankan Pentingnya Ruang Bertumbuh Bagi Pemimpin Perempuan

Retno Marsudi Tekankan Pentingnya Ruang Bertumbuh Bagi Pemimpin Perempuan
Foto: Ilustrasi Retno Marsudi Tekankan Pentingnya Ruang Bertumbuh Bagi Pemimpin Perempuan.

Mantan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyoroti tantangan ganda yang dihadapi perempuan dalam menyeimbangkan karier dan keluarga pada acara WomenÔÇÖs Space di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta, Senin (20/4/2026). Dilansir dari Lifestyle, kegiatan ini bertujuan menyediakan wadah bagi perempuan untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan.

Persoalan klasik mengenai pilihan antara pekerjaan dan rumah tangga menjadi titik berat pembahasan. Retno menilai pertanyaan mengenai pilihan tersebut cenderung bias gender dan jarang diajukan kepada laki-laki yang bekerja.

"Kita perempuan selalu dihadapkan pada pertanyaan pada saat kita sudah dewasa, pada saat kita sudah sekolah, sudah lulus kuliah, lulus sekolah. Kita banyak sekali mendapatkan pertanyaan, kamu memilih karier atau memilih keluarga? Saya selalu bertanya dulu, apakah pertanyaan itu juga diajukan kepada laki-laki? Tidak pernah." kata Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Retno mengisahkan pengalamannya merintis karier di Kementerian Luar Negeri yang kala itu sangat didominasi laki-laki dengan jumlah diplomat perempuan hanya sekitar 10 persen. Tekanan pekerjaan yang besar menuntutnya untuk membuktikan kapasitas profesionalnya tanpa harus meninggalkan peran personal.

"Saya bekerja di human profesi yang didominasi oleh laki-laki. Jadi pada saat saya bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, diplomat perempuan itu maksimal hanya 10 persen," ujar Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Ia menambahkan bahwa profesi diplomat memiliki karakteristik kerja yang melampaui batasan waktu dan lokasi konvensional. Kondisi ini menuntut ketahanan fisik dan mental yang kuat bagi setiap pelakunya.

"Untuk diplomat, bekerja itu tidak ada batas ruang, tidak ada batas waktu," ungkap Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Keinginan kuat untuk mengubah jalan hidup menjadi motivasi utama Retno dalam menjalani profesinya. Ia percaya bahwa perubahan nasib berada di tangan individu itu sendiri melalui kerja keras.

"Saya ingin membuktikan, sekali lagi tidak terlepas dari background saya, bahwa kalau bukan saya, tidak ada orang yang dapat mengubah hidup kami." tegas Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Dalam kehidupan sehari-hari, Retno sempat menjalani rutinitas padat sebagai ibu sekaligus profesional. Ia kerap berpindah peran secara cepat, mulai dari mengantar anak sekolah hingga menjalankan tugas di kantor kementerian.

"Anak saya berdua kecil-kecil, jadi kalau pagi itu sudah sekolah. Bawa anak-anak ke sekolah, kemudian ke kantor, terus pas break time, minta izin jemput anak," kenang Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Baginya, tantangan hidup yang berat merupakan bagian dari realitas yang harus dihadapi dengan keteguhan hati. Kesulitan tidak dianggap sebagai penghalang, melainkan proses yang perlu dijalani secara konsisten.

"Bahwa hidup itu kadang-kadang harus berat, harus dijalankan." ucap Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Retno mengibaratkan manajemen hidup layaknya mengemudikan kendaraan yang memerlukan pengaturan kecepatan yang tepat. Keseimbangan ditemukan ketika seseorang tahu kapan harus bekerja keras dan kapan harus beristirahat.

"Kadang-kadang harus digas, kadang-kadang harus rem, mobil kan juga digas, tidak bisa digas terus, kalau digas terus pasti akan nabrak," imbuh Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Ia menyarankan agar perempuan tidak memandang beban hidup sebagai sesuatu yang menyulitkan, melainkan sebagai ritme yang harus dikelola dengan bijak. Fleksibilitas dalam mengambil keputusan menjadi kunci utama kesuksesan.

"Jangan dianggap susah atau berat, inilah kehidupan saya, saya jalani saja, dan juga jangan lupa mainin gas remnya," saran Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri.

Sementara itu, dr. Sari Chairunnisa dari ParagonCorp mengungkapkan bahwa keraguan diri masih menjadi hambatan besar bagi perempuan untuk maju. Berdasarkan data riset Mestara tahun 2025, terdapat kesenjangan signifikan antara keinginan berkembang dan tingkat kepercayaan diri perempuan.

"Berbagai studi menunjukkan bahwa mayoritas perempuan memiliki motivasi untuk berkembang, namun tidak semuanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup untuk melangkah. Sebagai contoh, riset Mestara (2025) menunjukkan bahwa 83 persen perempuan ingin berkembang, namun hanya sekitar 30 persen yang merasa cukup percaya diri untuk mengambil langkah tersebut," ungkap dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R\&D Officer ParagonCorp.

Sari menekankan bahwa rasa ragu merupakan hal manusiawi yang juga pernah ia alami secara pribadi. Ia memandang keraguan bukan sebagai hambatan, melainkan sarana untuk bertumbuh dan tetap memiliki sikap rendah hati.

"Sering kali perempuan terlihat tenang dan mampu, tetapi di dalamnya tetap ada pertanyaan: apakah saya sudah cukup? Saya juga pernah berada di titik itu. Namun saya belajar bahwa keraguan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dihadapi dan justru dari situlah kita bertumbuh, sekaligus tetap rendah hati," imbuh dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO and Chief R\&D Officer ParagonCorp.

Program WomenÔÇÖs Space yang diinisiasi ParagonCorp telah menjangkau lebih dari 10.000 perempuan di berbagai kota besar di Indonesia sejak 2023. Komunitas ini fokus pada pengembangan kepemimpinan dan jejaring suportif bagi perempuan penggerak di tanah air.

Artikel terkait

Rekomendasi