Reduksi Fungsi Universitas Menjadi Pemasok Tenaga Kerja

Reduksi Fungsi Universitas Menjadi Pemasok Tenaga Kerja
Foto: Ilustrasi Reduksi Fungsi Universitas Menjadi Pemasok Tenaga Kerja.

ADA yang mengganjal ketika membaca rencana Kemendikti-Saintek menutup sebagian program studi demi menekan ketidakcocokan antara lulusan dan industri dan mengoptimalkan kontribusi kampus pada delapan industri strategis (energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju) serta anjuran mengembangkan prodi baru yang sesuai dengan sektor strategis.

Itu memprihatinkan. Universitas direduksi fungsinya sekadar sebagai pemasok tenaga kerja. Lantas, untuk apa manusia Indonesia dididik? Apakah benar universitas seharusnya mengikuti industri? Atau justru industri yang seharusnya dilahirkan universitas?

Dalam tradisi hukum pembangunan, hukum dan institusi pendidikan bukan sekadar alat pelayan ekonomi. Keduanya ialah arsitektur peradaban. Struktur yang menentukan ke mana bangsa bergerak, nilai apa yang dijunjung, manusia seperti apa yang dilahirkan. Universitas yang hanya mengikuti delapan industri strategis ialah universitas yang telah melepaskan fungsi arsitekturalnya. Ia tidak lagi merancang peradaban, ia hanya mengisi pesanan. Bukan arsitek, melainkan kontraktor. Sebagai kontraktor, kita tahu, ia tidak pernah mampu mengubah dunia.

Dalam filsafat pendidikan, hubungan antara universitas dan masyarakat bisa dikonstruksikan dalam tiga model. Pertama, model reaktif: universitas menjawab kebutuhan saat ini. Industri membutuhkan insinyur energi, kampus membuka prodi energi. Pasar membutuhkan tenaga digitalisasi, kampus membuka prodi digitalisasi. Universitas menjadi cermin yang memantulkan apa yang sudah ada di depannya.

Kedua, model adaptif: universitas tidak sekadar menjawab kebutuhan sekarang, tetapi juga mempersiapkan manusia adaptif terhadap kebutuhan yang belum diketahui. Ia tidak hanya mencetak spesialis untuk slot yang ada, tetapi juga membentuk manusia yang cukup lentur menciptakan slotnya sendiri ketika slot lama sudah usang atau tidak tersedia.

Ketiga, model generatif: universitas melahirkan manusia yang tidak sekadar adaptif, tetapi juga mampu memimpin perubahan. Perubahan yang membuka cakrawala tak terbayangkan dan menentukan arah peradaban. Bukan pengikut zaman, melainkan penentu zaman.

Kita sedang didorong ke model pertama. Padahal, yang dibutuhkan Indonesia bukan universitas yang berlari mengejar industri. Justru, universitas yang sanggup melahirkan industri yang belum ada.

Dalam belajar kepemimpinan strategis, ada kepemimpinan transaksional dan transformatif. Kepemimpinan transaksional bekerja dalam sistem yang sudah ada, ia mengoptimalkan, mengefisienkan, memenuhi target yang sudah ditetapkan. Ia menjawab kebutuhan yang sudah bisa dirumuskan. Kepemimpinan transformatif bekerja melampaui sistem. Ia mempertanyakan, membayangkan ulang, dan menciptakan kemungkinan yang belum pernah ada sebelumnya.

Kebijakan yang mendorong kampus menyesuaikan diri dengan delapan industri strategis ialah kebijakan yang melahirkan tipe kepemimpinan transaksional. Manusia yang terampil mengisi slot yang sudah tersedia. Manusia yang pandai bekerja dalam sistem. Bukan manusia yang tahu bagaimana mengubah sistem ketika sistem itu sudah usang atau tidak relevan.

Padahal sejarah membuktikan lompatan peradaban tidak pernah datang dari mereka yang mengikuti peta yang tersedia. Perubahan dunia selalu dimulai mereka yang dididik untuk mempertanyakan dunia, bukan sekadar melayaninya.

Ada satu prinsip dalam bioethics yang menjadi fondasi pengambilan keputusan di bidang kesehatan global, lingkungan hidup, dan hukum internasional: precautionary principle, prinsip kehati-hatian.

Sederhananya, prinsip itu menerangkan jika Anda tidak bisa membuktikan bahwa tindakan Anda aman dalam jangka panjang, jangan lakukan. Dalam setiap kasus, yang paling mahal bukan biaya reparasinya, melainkan kenyataan bahwa sebagian kerusakan yang ditimbulkan itu bersifat irreversible, tidak bisa dipulihkan, tidak bisa dikembalikan ke kondisi semula.

Mari kini terapkan prinsip yang sama pada kebijakan pendidikan.

Akankah damage akibat penutupan program studi yang tidak sejalan dengan industri strategis bisa dipulihkan? Pun, tidak ada yang bisa menjamin bahwa delapan industri strategis itu masih relevan dalam beberapa dekade ke depan.

Energi fosil sedang dalam transisi eksistensial. Manufaktur maju paling rentan terhadap otomasi AI. Peta industri berubah lebih cepat daripada siklus pendidikan. Prodi yang hari ini dibuka untuk memenuhi kebutuhan industri bisa menjadi prodi yang 'tidak relevan' bahkan sebelum angkatan pertamanya diwisuda.

Di sini precautionary principle berbicara sangat keras: ketika kita tidak bisa memastikan masa depan industri, tetapi kita bisa memastikan bahwa menutup program studi melahirkan irreversible damage risiko mana akan yang dipilih?

Sampailah kita pada pertanyaan paling mendasar: bangsa seperti apa yang ingin kita bangun? Jika jawabannya ialah bangsa yang efisien, yang kampusnya selaras dengan delapan industri strategis, yang pendidikannya terukur oleh angka serapan kerja, kebijakan itu konsisten dengan visinya sendiri. Silakan, jalankan.

Jika jawabannya ialah bangsa yang berdaulat, yang mampu menentukan arahnya sendiri, yang melahirkan pemimpin transformatif, yang universitasnya berfungsi sebagai arsitek peradaban, bukan kontraktor pesanan, kebijakan itu bukan hanya keliru secara filosofis. Ia berbahaya secara strategis.

Sejarah tidak pernah berpihak kepada bangsa yang hanya pandai bereaksi. Lompatan peradaban selalu dimulai dari institusi yang cukup bebas membayangkan apa yang belum ada dan cukup berani mendidik manusia yang sanggup mewujudkannya.

Ketika bicara tentang menutup program studi, tindakan yang dalam kerangka precautionary principle bersifat irreversible, kita sedang berbicara tentang pilihan peradaban. Pilihan tentang model manusia seperti apa yang akan memimpin Indonesia 20 atau 30 tahun dari sekarang. Yang dipertaruhkan bukan hanya relevansi sebuah program studi. Yang dipertaruhkan ialah kemampuan bangsa ini untuk tidak sekadar mengikuti, tetapi juga turut menentukan ke mana masa depan itu bergerak.

- Sosiolog Okky Madasari Sebut Bahasa dan Budaya Menggerakkan Roda Ekonomi 04/5/2026 21:11 Bahasa dan budaya memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian negara. Ia mengambil contoh konkret seperti budaya K-Pop dan popularitas lagu Jawa.

Artikel terkait

Rekomendasi