Kerja sama antara Malut United dengan SL Benfica dalam mendirikan Akademi Merah Putih dinilai sebagai langkah besar bagi kemajuan sepak bola usia dini di Indonesia. Penilaian tersebut disampaikan oleh pelatih nasional, Rahmad Darmawan, seperti dikutip dari Bola.
Rahmad Darmawan menyaksikan langsung peresmian kolaborasi ini di sela pertandingan Malut United melawan Persita Tangerang. Acara peluncuran tersebut berlangsung di Stadion Gelora Kie Raha pada Sabtu (16/5/2026).
Kehadiran Rahmad Darmawan di stadion didampingi oleh beberapa legenda sepak bola tanah air. Nama-nama besar seperti Rully Nere dan Rochy Putiray turut serta menyaksikan momen bersejarah ini.
Akademi Merah Putih memprioritaskan perekrutan bagi anak-anak yatim piatu dan dari keluarga kurang mampu. Target awal program ini akan menjaring 70 anak berusia 7 hingga 9 tahun yang berasal dari wilayah Maluku Utara, Maluku, dan Papua.
Misi sosial yang kuat menjadi pembeda utama program ini dengan akademi sepak bola lainnya. Struktur pengelolaan akademi berada di bawah PT Maluku Maju Sejahtera selaku perusahaan induk Malut United, dengan keterlibatan aktif manajemen internasional Benfica.
ÔÇ£Ini sifatnya sudah sangat nasional, melibatkan negara lain dan berkontribusi di sepak bola Indonesia. Ini akademi pertama yang dibuat untuk bertujuan lebih ke membantu masyarakat kurang mampu,ÔÇØ ujar Rahmad kepada beberapa media yang berkumpul, termasuk Kompas.com.
Pendekatan yang diambil Malut United dianggap sebagai fenomena langka dalam sistem pembinaan pesepak bola muda di tanah air. Seluruh biaya operasional dan personal peserta didik akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak manajemen.
ÔÇ£Luar biasa di Malut anak usia 7-9 tahun dibiayai semua dan betul-betul dari keluarga kurang mampu. Ini suatu pendekatan sosial luar biasa,ÔÇØ kata dia.
Pengembangan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada asah taktik dan fisik di lapangan hijau. Para siswa di akademi ini juga akan mendapatkan pendidikan karakter, penanaman moral, serta pembinaan keagamaan.
Tertarik Sistem Pembinaan Benfica
Sistem kepelatihan usia muda yang diterapkan oleh raksasa Portugal, SL Benfica, menarik perhatian Rahmad Darmawan untuk dipelajari. Klub tersebut tersohor dengan metodologi modern yang menitikberatkan pada pengembangan kecerdasan bermain para atlet.
ÔÇ£Benfica punya sistem game intelligence dan sistem simulator 360 OS, teknologi simulator untuk membantu pemain mengembangkan kognitif, persepsi, dan decision making,ÔÇØ ujar Rahmad.
Keputusan Benfica untuk menjalin kemitraan dengan klub asal Maluku Utara ini sempat membuat Rahmad terkejut. Kehadiran klub Eropa tersebut dianggap membawa standar baru dalam ekosistem sepak bola nasional.
ÔÇ£Saya kaget begitu dengar Benfica kerja sama dengan Malut United. Itu luar biasa,ÔÇØ katanya.
Benfica memiliki reputasi global yang teruji dalam mencetak talenta-talenta kelas dunia. Beberapa alumnus akademi mereka kini menjadi pilar penting di klub kaya Inggris, Manchester City.
ÔÇ£Benfica banyak melahirkan pemain-pemain hebat macam Rui Costa dan pemain-pemain Manchester City yang berasal dari Benfica,ÔÇØ ujar dia.
Transfer Ilmu Jadi Kesempatan Besar
Durasi kontrak kemitraan yang dirancang selama lima tahun memegang peranan krusial bagi perkembangan pelatih lokal. Periode panjang ini memberikan ruang yang ideal untuk penyerapan ilmu secara berkesinambungan.
ÔÇ£Biasanya kita hanya belajar dari mereka paling visit, observe, dan selesai. Namun ini lima tahun. Ini transfer knowledge luar biasa yang harus dimanfaatkan,ÔÇØ kata Rahmad.
Para pelatih domestik yang terlibat dalam proyek ini diharapkan bisa menyerap kurikulum Eropa secara maksimal. Kemandirian dalam menerapkan sistem pembinaan modern menjadi target jangka panjang pasca-program berakhir.
ÔÇ£Seharusnya setelah selesai bersama akademi ini, pelatih-pelatih yang terlibat bisa mudah melakukan hal yang sama,ÔÇØ ujar dia.
Proyeksi dari pembentukan Akademi Merah Putih ini diharapkan mampu membuka keran ekspor pemain Indonesia ke kompetisi internasional. Kualitas individu pemain akan dipersiapkan sejak dini agar memenuhi standar industri sepak bola global.
ÔÇ£Ini kesempatan untuk kita melahirkan pemain yang secara individu menjadi hebat karena bisa berkarier di jenjang profesional, tidak hanya di Indonesia tetapi juga disiapkan bermain di luar negeri,ÔÇØ kata Rahmad.