Putusan CAS Terbaru: Persib Kalah Gugatan dari Daisuke Sato, Wajib Bayar Rp2,7 Miliar pada 2026

Putusan CAS Terbaru: Persib Kalah Gugatan dari Daisuke Sato, Wajib Bayar Rp2,7 Miliar pada 2026
Foto: Putusan CAS Terbaru: Persib Kalah Gugatan dari Daisuke Sato, Wajib Bayar Rp2,7 Miliar pada 2026. (Illustration by Pexels)

Persib Bandung kini tengah menghadapi konsekuensi serius dari FIFA akibat konflik kontrak dengan mantan pemainnya, Daisuke Sato. Masalah hukum ini berujung pada sanksi larangan pendaftaran pemain baru yang dijatuhkan otoritas sepak bola dunia tersebut.

Akar permasalahan ini diketahui berasal dari kekalahan tim berjuluk Maung Bandung dalam persidangan di Pengadilan Arbitrasi Olahraga atau CAS. Melalui putusan setebal 24 halaman yang diterbitkan pada 16 Maret 2026, CAS menolak argumen keberatan yang diajukan manajemen Persib.

Lembaga hukum olahraga internasional tersebut menyatakan bahwa Sato memiliki alasan yang kuat dan sah untuk memutus kontraknya secara sepihak pada Januari 2024. Hal ini menjadi dasar munculnya kewajiban kompensasi finansial yang harus segera diselesaikan oleh pihak klub.

Konflik internal ini bermula saat manajemen Persib Bandung melakukan perombakan besar-besaran pada komposisi pemain asing di tengah musim BRI Liga 1 2023/2024. Kedatangan nama-nama baru seperti Stefano Beltrame dan Kevin Mendoza membuat posisi Daisuke Sato di tim menjadi tidak jelas.

Dalam pertimbangan hukumnya, CAS mengungkapkan bahwa pemain asal Filipina tersebut sebenarnya telah berulang kali meminta kepastian mengenai status registrasinya di liga. Namun, pihak klub dinilai tidak pernah memberikan jawaban yang transparan dan tegas kepada sang pemain.

Majelis arbitrase juga menemukan bukti bahwa Sato memang sengaja tidak didaftarkan lagi oleh Persib untuk kompetisi domestik. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa klub tetap memenuhi kuota enam pemain asing setelah mendaftarkan Kevin Mendoza ke operator liga.

Berdasarkan temuan tersebut, CAS menyimpulkan bahwa Sato telah dicoret dari pendaftaran BRI Liga 1 pada akhir November 2023. Kondisi ini secara otomatis menutup peluang sang bek sayap untuk tampil membela tim dalam laga resmi.

James Kitching, selaku arbiter tunggal dalam kasus ini, menegaskan bahwa hak seorang pesepak bola profesional tidak hanya sebatas menerima upah bulanan. Pemain memiliki hak mendasar untuk tetap tersedia dan dilibatkan dalam kompetisi resmi yang diikuti oleh klubnya.

Arbiter tunggal James Kitching memberikan pernyataan tegas mengenai prinsip hak dasar atlet profesional dalam menjalankan kariernya:

  • Setiap atlet profesional memiliki hak asasi untuk menjalankan profesi mereka di bidang olahraga pilihan secara penuh.
  • Tindakan klub yang sengaja menghapus pendaftaran pemain pada dasarnya merupakan upaya menutup akses pemain tersebut untuk berkompetisi.

James Kitching menjelaskan bahwa perlakuan klub yang membatasi ruang gerak atlet untuk berkompetisi secara aktif tidak bisa dibenarkan dalam dunia olahraga. Hal ini dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap esensi kontrak kerja antara pemain dan klub profesional.

Selain itu, CAS menilai situasi yang diberikan Persib kepada Sato pada saat itu merupakan kondisi yang sangat tidak adil bagi karier sang pemain. Meskipun Sato tetap mendapatkan gaji dan fasilitas latihan, ia dianggap tidak bisa menjalankan profesinya secara utuh karena absen dari pertandingan.

Arbiter dalam putusannya juga melayangkan kritik tajam terhadap sikap manajemen Persib yang membiarkan situasi tersebut berlarut-larut tanpa kejelasan. Maung Bandung dinilai telah membiarkan Daisuke Sato berada dalam kondisi ketidakpastian yang merugikan masa depannya sebagai atlet profesional.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, CAS menetapkan bahwa Sato memiliki just cause untuk mengakhiri masa baktinya di Bandung pada 3 Januari 2024. Dengan status hukum ini, Persib dinyatakan sebagai pihak yang bersalah karena melakukan pelanggaran ketentuan kontrak.

Terkait nilai ganti rugi, CAS memberikan sedikit kelonggaran dengan mengabulkan sebagian permohonan banding dari pihak manajemen Persib Bandung. Nilai kompensasi yang awalnya ditetapkan oleh FIFA sebesar Rp3,09 miliar akhirnya mengalami revisi atau pengurangan jumlah.

Pengurangan ini dilakukan setelah CAS memperhitungkan pendapatan yang diperoleh Sato dari klub barunya di Filipina setelah ia resmi meninggalkan Persib. Langkah ini diambil untuk memastikan keadilan dalam nilai kompensasi yang harus dibayarkan oleh klub asal Jawa Barat tersebut.

Berikut adalah rincian total kewajiban finansial yang harus dibayarkan oleh Persib Bandung berdasarkan keputusan final sidang CAS:

Komponen Kewajiban Nilai Estimasi (Rupiah)
Nilai Kompensasi Pokok Rp2.719.878.000
Bunga (5% per tahun sejak Jan 2024) ± Rp327.500.000
Total Perkiraan Kewajiban ± Rp3.047.381.118

Penghitungan bunga tersebut terus berjalan sejak tanggal pemutusan kontrak hingga seluruh kewajiban pembayaran diselesaikan secara penuh oleh pihak klub. Angka ini merupakan estimasi kasar dari total dana yang harus disiapkan manajemen untuk memulihkan status mereka di FIFA.

Putusan hukum ini secara otomatis mengukuhkan posisi Daisuke Sato sebagai pemenang dalam sengketa kontrak yang cukup panjang ini. Kasus inilah yang diyakini menjadi penyebab utama FIFA menjatuhkan hukuman larangan registrasi pemain baru bagi Persib Bandung di musim mendatang.

Persib kini dituntut untuk segera melunasi seluruh kewajiban tersebut agar sanksi administratif dari FIFA bisa segera dicabut sebelum bursa transfer ditutup. Jika tidak segera ditangani, Maung Bandung akan kesulitan menambah kekuatan skuat mereka untuk mengarungi kompetisi BRI Super League musim depan.

Hukuman ini menjadi peringatan keras bagi klub-klub profesional di Indonesia dalam menangani administrasi dan kontrak pemain asing. Kejelasan status registrasi merupakan aspek krusial yang dilindungi oleh regulasi FIFA maupun lembaga arbitrasi olahraga internasional lainnya.

Daisuke Sato sendiri saat ini sudah melanjutkan karier profesionalnya di liga lain setelah sempat menjadi bagian penting dari pertahanan Persib selama beberapa musim. Meski sudah berpisah, dampak dari proses pengakhiran kontraknya masih menyisakan pekerjaan rumah yang berat bagi manajemen Maung Bandung.

Hingga saat ini, pihak klub dikabarkan tengah berupaya menyelesaikan segala persyaratan finansial yang diminta oleh otoritas hukum terkait. Manajemen berkomitmen untuk mengikuti prosedur yang berlaku demi menjaga reputasi klub di kancah sepak bola internasional dan domestik.

Diharapkan dengan selesainya kasus ini, Persib Bandung dapat kembali fokus pada persiapan teknis di lapangan hijau tanpa terbebani masalah regulasi. Dukungan suporter tetap menjadi energi utama bagi tim dalam melewati masa-masa sulit akibat sanksi FIFA ini.

Artikel terkait

Rekomendasi