Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan anggaran subsidi bahan bakar minyak tetap aman bagi masyarakat di tengah kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang sempat mendekati level Rp17.700 pada Senin (18/5/2026).
Pemerintah menyatakan bahwa skenario penurunan nilai mata uang Garuda ini sudah diperhitungkan dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, terutama terkait dampak langsungnya pada sektor subsidi energi nasional, sebagaimana dilansir dari Money.
Langkah kalkulasi ulang tersebut disampaikan langsung oleh bendahara negara saat ditemui oleh awak media di area Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.
ÔÇ£Waktu kita hitung rupiahnya bukan seperti asumsi APBN yang sebelumnya. Jadi kira-kira begitu,ÔÇØ ujar Purbaya kepada wartawan ditemui di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta pada Senin (18/5/2026).
Kendati demikian, besaran proyeksi angka kurs terbaru dalam simulasi internal pemerintah sengaja tidak diumumkan guna menghindari risiko munculnya aksi spekulasi oleh para pelaku pasar keuangan.
Masyarakat diminta tidak panik karena berbagai langkah mitigasi dan antisipasi risiko penekanan nilai tukar dipastikan telah disiapkan secara matang oleh kementerian terkait.
ÔÇ£But sudah kita hitung, jadi enggak usah khawatir,ÔÇØ ujar Purbaya.
Sikap optimistis juga ditunjukkan oleh Menkeu yang mengaitkan kondisi perekonomian domestik secara umum dengan ekspresi positif pribadinya dalam menghadapi dinamika pasar global tersebut.
ÔÇ£Kalau saya senyum ekonominya bagus," katanya.
Berdasarkan laporan pergerakan pasar dari data Bloomberg, mata uang rupiah mengalami penurunan sebesar 71 poin atau setara 0,40 persen hingga menyentuh posisi Rp17.668 per dollar Amerika Serikat.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate di Bank Indonesia menunjukkan posisi rupiah bertengger pada level Rp17.666 per dollar AS, mencatat pelemahan dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp17.496 per dollar AS.
Kondisi riil ini berbanding terbalik dengan target awal asumsi dasar ekonomi makro pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2026 yang mematok nilai tukar rupiah sebesar Rp16.500 per dollar AS.
Dokumen APBN tersebut juga menetapkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen secara tahunan, tingkat inflasi pada kisaran 2,5 persen, serta proyeksi stabilitas suku bunga Surat Berharga Negara tenor 10 tahun di level 6,9 persen.
Selain indikator makro utama, beberapa komponen penopang ekonomi nasional turut diproyeksikan dalam APBN 2026, seperti konsumsi rumah tangga yang ditargetkan tumbuh sebesar 5,2 persen serta konsumsi pemerintah di angka 4,3 persen.
Aktivitas investasi dalam negeri juga diharapkan mampu bergerak naik hingga 5,2 persen, diikuti oleh kinerja sektor perdagangan internasional dengan target pertumbuhan ekspor sebesar 6,7 persen dan impor sebesar 7,2 persen.